Kukar Akan jadi Lumbung Jagung di Kalimantan
Foto: Jagung
TENGGARONG. Target tanam
jagung seluas 6.000 hektar tahun ini belum tercapai, melalui gerakan revolusi
jagung, diharapkan para generasi muda, ormas dan organisasi kepemudaan ikut
ambil bagian di sini.
Peluang ini harus
ditangkap dan dikelola dengan baik, Karena jagung menjadi salah satu pilihan
komoditi yang tepat dan cepat. Dalam waktu 90 hari, jagung sudah bisa
diproduksi dan pasarnya sudah terbuka.
“Kebutuhan jagung
kita di dalam sangat tinggi. Untuk bahan pakan ternak, kita masih impor dari
luar, komoditi lain juga bagus, tapi hasil analisis dengan teman akademisi lalu
kita diskusikan, kita pilih jagung karena perlakuan tanamnya juga mudah,
setelah lahan kita buka, sudah bisa kita tanam, nanti pemupukannya disesuaikan
kebutuhan, proses pemeliharaannya juga mudah,” Kata Pelaksana Tugas (Plt)
Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Edi Damansyah belum lama ini.
Menurut Edi, menurunya jumlah
petani di Kukar yang juga di setai dengan faktor alam, kondisi ini membuat
target pada tahu ini tidak bisa tercapai, Pemerintah Daerah sudah menghimpun
data titik-titik kawasan yang akan dikembangkan tanaman jagung, seperti di
Kecamatan Muara Badak, Marang Kayu, Tenggarong Seberang, Sebulu, Muara Kaman,
dan Kota Bangun.
“Saat ini masih banyak
petani yang fokus menanam padi sawah, jagung menjadi salah satu prioritas pada
RPJMD 2016-2021, kami melakukan kerja sama dengan Asosiasi Petani Jagung Indonesia
(APJI) sehingga nanti ada pendampingan dari APJI lewat program revolusi jagung
ini. Untuk permulaan, ada demplot dibangun di Muara Badak sekitar 10 ha oleh
APJI,” bebernya
Edi berharap kerja sama
yang dengan APJI bisa memberikan jaminan dari hulu sampai hilirnya, mulai
proses produksi hingga aspek pemasarannya, pengembangan jagung ini bisa
menambah pendapatan petani, menyerap peluang kerja, serta bagian program
pengentasan kemiskinan. Dia berharap pihak perbankan, terutama bankkaltimra
membantu permodalan dengan persyaratan sederhana kepada para petani jagung di
Kukar.
“Kita berharap Kukar
menjadi sentra jagung di Kaltim, bahkan Kalimantan. Kita ingin sampaikan kalau
dulu batubara jadi ikon Kukar, maka mimpi kita sekarang ikonnya jagung dan
diproduksi sendiri lewat gerakan revolusi jagung,” harapnya.
Sementara, Sidi Asmono.
Ahli Bioteknologi sekaligus Anggota Masyarakat Agribisnis dan Agroindustri
Indonesia (MAI), mengatakan target produksi jagung di Kukar bisa mencapai 7
ton/ha. Bahkan tanaman jagung dapat dikembangkan di lahan bekas tambang.
“Target kita nggak
muluk-muluk, dalam 2 tahun terakhir bisa menghasilkan 7 ton/ha, kenapa disebut
revolusi jagung karena diharapkan memberikan perubahan dalam waktu cepat untuk
mendapatkan hasil yang siginifikan,” jelasnya.
Ada 2 hal ingin dicapai
dalam gerakan revolusi jagung ini, yakni peningkatan produksi jagung dan
membuat petani berpenghasilan, adanya penandatanganan MoU (nota kesepahaman)
dengan APJI, maka pihak asosiasi bisa mengawal proses dari hulu ke hilir, mulai
dari menanam, merawat, panen dan memasarkannya.
“Kita berkomitmen untuk
mendukung Kukar sebagai lumbung baru jagung, bahkan jadi lumbung jagung
terbesar di Kaltim, jagung adalah green economy (ekonomi hijau), semua bagian
jagung dapat dimanfaatkan,” ujar Sidi.
Ia menambahkan, satu
butir benih jagung dapat menghasilkan satu tongkol atau 600 butir jagung,
sedangkan dalam satu hektar lahan terdapat 8.000 tanaman jagung. “Artinya, satu
hektar lahan jagung bisa menghasilkan 4,8 juta butir,” terang Sidi. aji/poskotakaltimnews.com