Dulu Mangrove Dianggap Penghalang Tambak, Kini Jadi Kunci Panen Berhasil

img

POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Program SECURE di pesisir Berau mengubah cara lama bertambak. Produksi tidak lagi dikejar dengan membuka lahan, tetapi dengan memulihkan ekosistem yang selama ini menjadi penyangga kehidupan. Tidak banyak petambak yang percaya bahwa mengurangi area produksi justru bisa meningkatkan hasil panen. Logika lama yang berkembang selama bertahun-tahun selalu sama: semakin luas tambak dibuka, semakin besar keuntungan yang didapat. Tetapi di pesisir Kabupaten Berau, cara berpikir itu mulai berubah.

 

Di Kampung Pegat Batumbuk dan Kampung Suaran, para petambak mulai membuktikan bahwa menjaga mangrove bukan berarti mengurangi penghasilan. Sebaliknya, kawasan yang dipulihkan justru membantu menciptakan lingkungan tambak yang lebih sehat dan produktif. Perubahan itu terlihat dalam panen tambak Shrimp Carbon Aquaculture (SECURE) yang dilaksanakan pada 3 Juni 2026.

 

Program yang didukung Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) bersama Dinas Perikanan Kabupaten Berau melalui kerangka Solutions for Marine and Coastal Resilience in the Coral Triangle (SOMACORE) tersebut mengembangkan sistem budi daya yang menempatkan keseimbangan ekosistem sebagai fondasi produksi.

 

Jika sebelumnya hampir seluruh area digunakan untuk tambak, kini hanya sekitar 20 persen kawasan yang dimanfaatkan untuk produksi. Sisanya sekitar 80 persen dikembalikan menjadi ruang hidup mangrove. Pendekatan itu awalnya memunculkan keraguan. Bagaimana mungkin hasil panen bisa naik jika area produksi justru diperkecil?

 

Jawabannya mulai terlihat dari tambak milik Abdul Rahman di Kampung Pegat Batumbuk. Panen tahun ini menghasilkan 115 kilogram udang windu, 141 kilogram udang bintik, 1,9 ton ikan bandeng, dan 50 kilogram kepiting bakau. Yang membuat hasil ini menonjol, produksi tersebut diperoleh dari lahan yang jauh lebih kecil dibanding sebelumnya.

 

“Hasil panen kali ini menunjukkan bahwa pengelolaan tambak yang lebih memperhatikan kondisi lingkungan dapat memberikan hasil yang baik,” kata Abdul.

 

Sebelum mengikuti pendekatan SECURE, produksi udang windu di tambaknya rata-rata hanya sekitar 100 kilogram. Kini hasil meningkat sekitar 15 persen. Tidak hanya itu, muncul tambahan komoditas seperti bandeng dan kepiting bakau yang ikut memberikan pendapatan tambahan.

 

Perubahan tersebut tidak terjadi secara instan. Melalui sekolah lapang, petambak diajarkan teknik pembuatan kompos, pemanfaatan mikroorganisme lokal (MOL), hingga metode nursery untuk meningkatkan daya tahan benih. Teknik nursery menjadi salah satu inovasi yang paling dirasakan manfaatnya. Benih tidak lagi langsung ditebar, tetapi diberi waktu beradaptasi terlebih dahulu.

 

Jumardi, petambak mitra SECURE di Kampung Suaran, mengatakan metode tersebut membuat tingkat keberhasilan budi daya meningkat. Tambak yang ia kelola bersama ayahnya menghasilkan 284,2 kilogram udang windu dan 120 kilogram udang bintik.

Kepala Dinas Perikanan Berau Abdul Majid menilai pendekatan ini menjadi bukti bahwa masa depan perikanan tidak harus dibayar dengan kerusakan lingkungan. Di pesisir Berau, para petambak sedang menunjukkan bahwa menjaga alam bukan penghambat produksi tetapi justru menjadi modal untuk memanen masa depan. (sep/FN)