Ustad Cupink Topan Kagumi Pesona Kaniungan dan Biduk-Biduk, Ajak Generasi Muda Menjaga Keindahan Ciptaan Tuhan

img

Ustad Cupink Topan (tengah) saat menikmati keindahan alam dan panorama di pantai Pulau Kanjungan. (foto: sen/fn)


POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Safari dakwah yang dijalani Ustad Cupink Topan di Kabupaten Berau bukan hanya menjadi perjalanan menyampaikan syiar Islam dalam momentum bulan Muharram, tetapi juga menghadirkan pengalaman spiritual yang membekas melalui keindahan alam pesisir yang memukau.

 

Selama kurang lebih lima hari berada di Bumi Batiwakkal, ustad yang juga dikenal sebagai aktor dengan suara merdunya itu mengunjungi sejumlah wilayah pesisir untuk mengisi rangkaian ceramah dan kegiatan keagamaan. Perjalanan dakwah tersebut dimulai dari Talisayan, berlanjut ke Kayu Indah, Tembudan, hingga berakhir di kawasan wisata unggulan Berau, Biduk-Biduk.

 

Namun di tengah padatnya agenda dakwah, ada satu hal yang tak disangka meninggalkan kesan mendalam di hati Ustad Cupink Topan—keindahan alam pesisir Berau yang masih terjaga dan menghadirkan ketenangan yang sulit ditemukan di tengah hiruk pikuk perkotaan.

 

Di sela kegiatan, ia menyempatkan diri mengunjungi destinasi wisata andalan Berau seperti Labuan Cermin dan Pulau Kaniungan. Hamparan laut yang jernih, panorama pulau yang masih alami, serta suasana tenang di kawasan tersebut menjadi pengalaman yang menurutnya bukan sekadar wisata, melainkan ruang untuk merenung dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

 

Momen itu bahkan ia isi dengan melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an sambil menikmati bentangan alam yang membentang di hadapannya.

 

“Ketika berada di tempat seperti ini, kita tidak hanya melihat keindahan, tetapi juga merasakan kebesaran Allah melalui ciptaan-Nya. Alam yang indah seperti ini membuat hati lebih tenang dan lebih mudah untuk bersyukur,” ungkapnya.

 

Tidak berhenti sampai di situ, Ustad Cupink Topan juga merasakan pengalaman memancing di perairan Biduk-Biduk. Aktivitas sederhana tersebut justru menjadi momen reflektif yang menurutnya memberi pelajaran tentang kesabaran, ketenangan, dan rasa syukur atas nikmat alam.

 

Kekaguman terhadap pesona wisata Berau membuat dirinya mulai merencanakan kunjungan berikutnya. Ia bahkan mengaku ingin mengajak rekan-rekannya dari Jakarta untuk datang dan melihat langsung keindahan kawasan pesisir Berau yang dinilainya memiliki daya tarik luar biasa.

 

Menurutnya, daerah seperti Biduk-Biduk dan Kaniungan memiliki potensi besar menjadi destinasi wisata yang semakin dikenal luas, namun tetap harus dijaga agar tidak kehilangan keaslian dan kelestariannya. Di akhir kunjungannya, Ustad Cupink Topan menyampaikan pesan khusus kepada masyarakat, terutama generasi muda, agar terus menjadi penjaga alam dan tidak mengorbankan keindahan lingkungan demi kepentingan sesaat.

 

“Alam yang kita nikmati hari ini adalah titipan yang harus kita jaga bersama. Jangan sampai generasi berikutnya hanya mendengar cerita tentang indahnya tempat ini tanpa bisa melihat dan menikmatinya secara langsung. Menjaga alam juga bagian dari bentuk syukur kita kepada Allah,” pesannya.

 

Safari dakwah Muharram yang awalnya menjadi perjalanan menyampaikan pesan-pesan keagamaan itu akhirnya berubah menjadi perjalanan penuh makna. Dari mimbar dakwah hingga tepian laut, Ustad Cupink Topan menemukan satu pesan yang sama—bahwa keindahan alam dan rasa syukur adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

 

Dan dari pesisir Berau, ia pulang membawa cerita bahwa di ujung timur Kalimantan masih tersimpan surga kecil yang tak hanya indah dipandang, tetapi juga mampu menguatkan hati dan mengingatkan manusia untuk kembali menjaga ciptaan Tuhan.

 

“Ketika Mangrove Mulai Menghasilkan: Dari Tambak Berau Lahir Model Ekonomi Biru yang Menjaga Pesisir, Menekan Biaya Produksi, dan Tetap Mendatangkan Panen”. (sep/FN)