Andi Satya Minta Pemerintah Pusat Tidak Abaikan Suara Daerah dalam Kebijakan Sosial
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kalimantan Timur (Kaltim), Andi Satya Adi Saputra
POSKOTAKALTIMNEWS, SAMARINDA: Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kalimantan Timur (Kaltim),
Andi Satya Adi Saputra, menegaskan bahwa keberhasilan program sosial berskala
nasional sangat bergantung pada kesediaan pemerintah pusat untuk mendengarkan
dan melibatkan daerah secara substansial, bukan sekadar formalitas.
Pernyataan ini
disampaikannya merespons peluncuran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang
menjadi salah satu agenda besar pemerintah pusat. Meski mendukung penuh tujuan
mulia program tersebut, Andi menilai bahwa pelibatan aktif daerah dalam proses
perencanaan dan eksekusi menjadi elemen krusial yang kerap diabaikan.
“Sering kali, daerah hanya
dijadikan penerima kebijakan, bukan mitra dalam menyusun solusi. Ini yang harus
diubah. Dialog antara pusat dan daerah harus menjadi komponen utama dalam
perumusan kebijakan sosial,” ujar Andi, Sabtu (17/05/2025).
Menurutnya, fleksibilitas
dan keberpihakan terhadap realitas lokal merupakan kunci agar program-program
nasional benar-benar memberi manfaat optimal. Daerah-daerah di luar Pulau Jawa,
seperti Kalti,, memiliki tantangan unik baik dari sisi infrastruktur,
distribusi, hingga ekonomi yang tidak bisa disamakan begitu saja dengan wilayah
lain.
Andi juga mengingatkan
bahwa efisiensi dalam pelaksanaan program tidak berarti pemangkasan anggaran
semata, tetapi bagaimana anggaran disusun dan dikelola berdasarkan kebutuhan
faktual di masing-masing wilayah.
“Kalau pusat membuat
aturan yang seragam tanpa mendengar kebutuhan lokal, maka program akan jalan di
atas kertas, tapi mandek di lapangan,” tegasnya.
Ia berharap pola hubungan
pusat-daerah dalam konteks kebijakan sosial dapat bergeser ke arah yang lebih
partisipatif dan adaptif. Menurutnya, membangun kepercayaan dan ruang diskusi
yang terbuka akan memperkuat efektivitas program sekaligus mempercepat
tercapainya tujuan pembangunan manusia yang merata.
“Pemerintah pusat harus
memberikan ruang adaptasi seluas mungkin bagi daerah. Tidak ada satu resep yang
cocok untuk semua. Kebutuhan dan kondisi tiap daerah itu berbeda, dan itu harus
diakui dalam perumusan kebijakan,” pungkasnya. (ADV/DPRD KALTIM)