DPUPR Berau Fokus Identifikasi dan Perbaikan Infrastruktur Pascabanjir
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Berau, Fendra Firnawan, menyatakan bahwa pihaknya tengah melakukan identifikasi terhadap kerusakan infrastruktur pascabanjir yang melanda sejumlah wilayah di Berau. Salah satu fokus awal adalah jembatan dan akses jalan antar Kampung yang terdampak banjir.
“Terkait keberadaan
Jembatan sementara masih kami sedang identifikasi. Tentunya setelah air surut,
kami baru bisa melihat secara detail kerusakan yang terjadi. Jika memang
dianggap prioritas. Karenanya itu akan kami usulkan anggarannya, bisa melalui
perubahan anggaran tahun ini,” jelas Fendra saat ditemui wartawan.
Ia menambahkan,
anggaran infrastruktur seperti jalan, jembatan, dan drainase memang telah
dialokasikan melalui APBD, namun tidak ada dana khusus untuk penanganan
darurat. Hal tersebut membuat PUPR tidak bisa serta-merta melakukan tindakan di
luar rencana yang tercantum dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA). “Kami
upayakan semua sudah dianggarkan sesuai DPA. Kalau sifatnya darurat, kita tidak
bisa langsung ambil tindakan karena harus sesuai prosedur,” tegasnya.
Untuk tahun 2025,
Fendra menyebut bahwa sebelumnya fokus anggaran lebih diarahkan ke pembangunan
jalan dan jembatan di luar wilayah terdampak bencana. Namun, dengan adanya
banjir, kini perhatian juga diarahkan pada jalur antar Kampung dan antar Kecamatan
yang terdampak.
“Upaya lainnya kami
tempuh tetap memantau jalur-jalur alternatif yang digunakan masyarakat, meski
beberapa di antaranya merupakan hasil kolaborasi dengan perusahaan swasta,”
tambahnya.
Terkait kunjungan
Bupati dan Wakil Bupati ke wilayah Kelay, Fendra menyatakan belum mengetahui
detailnya, dan menyarankan untuk menanyakan langsung ke BPBD. Namun, pihaknya
memastikan akan mulai bekerja setelah mendapatkan data kerusakan pascabanjir.
“Kami sampaikan pascabanjir baru bisa lihat kerusakan dan merinci
kebutuhan perbaikannya. Anggarannya jelas dari APBD atau jika memungkinkan
melalui dana tambahan dari pemerintah daerah,” katanya.
Salah satu titik yang
menjadi perhatian adalah jembatan penghubung antar kampung di Kecamatan Segah
yang sudah puluhan tahun belum mendapat peremajaan. Fendra menyebut jembatan
tersebut sudah masuk dalam rencana anggaran DPUPR.
“Sementara ini kami
fokus ke jembatan Deli. Beberapa jembatan seperti di daerah Selain dan Panaan
juga sudah dicek. Ada jembatan yang amblas dan hanya bisa menahan beban 30 ton.
Itu perlu diangkat dan ditata ulang,” ujarnya.
Untuk pasokan material jembatan, menurut Fendra, sebagian besar masih didatangkan dari Pulau Jawa, seperti Jakarta dan Surabaya. Ia juga menyebut bahwa wilayah pesisir belum masuk prioritas pembangunan jembatan dalam waktu dekat.
“Kami berharap sisa
anggaran masih bisa digunakan untuk jembatan-jembatan yang memang sangat
dibutuhkan masyarakat,” pungkasnya. (sep/FN)