Pemprov Kaltim Dihadapkan pada Dilema Menyelamatkan Pulau-pulau Wisata di Tengah Keterbatasan Anggaran
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Ancaman abrasi yang terus menggerus kawasan pesisir di Kepulauan Derawan, Maratua, hingga sejumlah pulau kecil lainnya di Kabupaten Berau masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Di satu sisi, kawasan
tersebut merupakan aset strategis yang menopang sektor pariwisata Kalimantan
Timur. Namun di sisi lain, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur kini
dihadapkan pada keterbatasan fiskal akibat kebijakan efisiensi anggaran,
sehingga penanganan abrasi harus disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah.
Gubernur Kalimantan
Timur Rudy Mas'ud menegaskan, persoalan abrasi di wilayah pesisir Berau tetap
menjadi perhatian pemerintah. Menurutnya, perlindungan kawasan pesisir tidak
hanya berkaitan dengan keselamatan lingkungan, tetapi juga menyangkut keberlangsungan
kehidupan masyarakat pesisir serta masa depan sektor pariwisata yang menjadi
salah satu penggerak ekonomi daerah.
"Abrasi di
Kepulauan Derawan, Maratua, dan pulau-pulau lainnya tetap menjadi perhatian
pemerintah. Namun pelaksanaannya harus disesuaikan dengan kemampuan keuangan
daerah yang ada saat ini," ujar Rudy.
Ia menjelaskan,
kondisi fiskal Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur pada tahun ini mengalami
penurunan yang cukup signifikan. Total anggaran daerah yang sebelumnya mencapai
sekitar Rp14,25 triliun, kini menyusut menjadi sekitar Rp12,1 triliun.
Penyusutan ruang
fiskal tersebut membuat pemerintah harus melakukan penyesuaian terhadap
sejumlah program pembangunan. Di tengah keterbatasan anggaran, pemerintah
memilih memprioritaskan pembiayaan untuk program-program yang berkaitan
langsung dengan Standar Pelayanan Minimum (SPM) yang wajib dipenuhi kepada
masyarakat.
Program prioritas
tersebut meliputi sektor pendidikan, kesehatan, pembangunan infrastruktur
dasar, hingga sanitasi yang dinilai menjadi kebutuhan paling mendesak.
"Karena kita ini
lebih fokus kepada standar pelayanan minimum, yaitu pendidikan, kesehatan, dan
infrastruktur termasuk di dalamnya sanitasi," katanya.
Rudy menegaskan,
kebijakan tersebut bukan berarti pemerintah mengesampingkan persoalan abrasi.
Namun dengan kondisi anggaran yang terbatas, seluruh program pembangunan harus
disusun berdasarkan skala prioritas agar pelayanan dasar kepada masyarakat
tetap berjalan optimal.
Menurutnya,
berkurangnya kemampuan fiskal daerah bukan dipicu oleh menurunnya Pendapatan
Asli Daerah (PAD), melainkan merupakan konsekuensi dari kebijakan efisiensi
anggaran yang saat ini diterapkan pemerintah.
"Anggaran kita
hari ini terbatas. Dari tahun sebelumnya Rp14,25 triliun, tahun ini hanya
tinggal Rp12,1 triliun, jadi semakin turun. Turunnya ini bukan karena
pendapatan asli daerah yang turun, tetapi karena persoalan efisiensi yang hari
ini terjadi," tegasnya.
Kondisi tersebut
membuat berbagai program pembangunan, termasuk penanganan abrasi di kawasan
pesisir, harus dilaksanakan secara bertahap sesuai kemampuan keuangan daerah.
Padahal, kawasan Kepulauan Derawan dan Maratua merupakan dua destinasi wisata
unggulan Kalimantan Timur yang selama ini menjadi magnet kunjungan wisatawan
domestik maupun mancanegara.
Abrasi tidak hanya
berpotensi mengurangi luas daratan dan mengancam permukiman masyarakat pesisir,
tetapi juga dapat berdampak terhadap ekosistem pantai, fasilitas publik, hingga
aktivitas pariwisata apabila tidak ditangani secara berkelanjutan.
Karena itu, Rudy
memastikan Pemprov Kalimantan Timur tetap berkomitmen memasukkan penanganan
abrasi sebagai salah satu agenda pembangunan daerah. Meski pelaksanaannya harus
dilakukan secara bertahap, pemerintah akan terus berupaya mencari solusi agar
perlindungan kawasan pesisir tetap berjalan di tengah keterbatasan anggaran.
Baginya, menjaga
Derawan, Maratua, dan pulau-pulau kecil lainnya bukan sekadar mempertahankan
bentang alam, tetapi juga melindungi aset strategis Kalimantan Timur yang
memiliki nilai ekonomi, sosial, dan lingkungan bagi masyarakat. Pemerintah
berharap keseimbangan antara pemenuhan layanan dasar dan perlindungan kawasan
pesisir dapat terus dijaga agar pembangunan daerah tetap berjalan secara
berkelanjutan. (sep/FN)