Kembangkan Desa Wisata Berbasis Masyarakat, Dispar Kukar Kolaborasi Dengan Dua Universitas Negeri di Kalatim
Pelatihan Pendampingan Desa Wisata Pokdarwis Pantai Biru Kersik yang digelar Dispar Kukar menggaet Polnes Kukar/pic:ist
POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR : Melihat
geliat pariwisata yang terus berkembang terutama
pada sektor wisata-wisata berbasis masyarakat, Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar
bekerja sama dengan dua institusi pendidikan tinggi, di Kalimantan Timur
(Kaltim) yakni Politeknik Negeri Samarinda (Polnes) dan Universitas Mulawarman
(Unmul), mengkonsep sebuah program yang disebut Pendampingan Desa Wisata.
Program ini merupakan
lanjutan dari inovasi yang telah dilaksanakan pada 2024. Tahun ini Desa Kersik,
menjadi salah satu dari tiga desa terpilih yang akan mendapat pendampingan
intensif hingga akhir tahun.
Hal tersebut
diungkapkan Kabid Pengembangan Destinasi Pariwisata Dispar Kukar, M Ridha
Fatrianta.
“Sampai dengan
sekarang masih tahap persiapan kemarin baru Desa Kersik pendamping baru satu
desa mungkin nanti jadwalnya setelah libur Idul Adha kita lanjutkan lagi,” ujar
Ridha saat dikonfirmasi Selasa (03/06/2025).
Ridha mengaku tujuan
pendamping desa wisata ini untuk mengembangkan destinasi wisata berbasis
masyarakat. Ia menegaskan meski sudah wisata yang dikelola dan berjalan
pihaknya menilai tentu perlu dilakukan peningkatan.
“Jika sudah ada harus
meningkatkan lagi potensinya, selain itu produk-produk wisata yang ada di situ
mungkin jika sudah ada kita inovasi kan lagi dan di kembangkan lagi,” ujarnya.
Lanjut Ridha selain
pada objek wisata, pendampingan ini juga guna meningkatkan kapasitas SDM serta
memperluas pemasaran destinasi wisata berbasis masyarakat yang ada di
masing-masing desa.
“Pendampingan juga
terkait dengan manajemen, jadi ada sekitar 10 kegiatan tiap- tiap desa kan ada
permasalahan masing-masing,” ungkapnya.
Ia menyebutkan salah
satunya juga terkait manajemen kelembagaan tata kelola organisasi, manajemen
keuangan juga turut pada pendampingan desa wisata ini.
“Jadi biar mereka
memahami mana itu pemasukan, pendapatan, pengeluaran, itu kita berikan juga.
Sebab kadang-kadang dalam organisasi salah satu kelemahannya ketika pengelolaan
keuangan, ada salah paham dan sebagainya. Dengan adanya pengetahuan ini
diharapkan tidak ada lagi permasalahan,” tuturnya.
Ridha juga
menyebutkan pengelolaan manajemen Even turut dalam pendampingan ini, dalam hal
ini para pengelola desa wisata akan mengelola even dan juga mengelola homestay,
hingga pengelolaan kuliner berbasis lokal.
“Jadi kita inginkan
mereka dapat mengelola desa wisata dengan struktur yang termanajemen, misal
pengelolaan kuliner lokal. Seperti di desa Sangkuliman itu ada produk khas di situ,
jadi kita olah lebih inovatif dan mungkin nantinya bisa jadi cenderamata dan
lain sebagainya,” tandasnya.
“Nanti akan ada
pelatihan juga sebagai pemandu wisata dan manajemen pembuatan paket pariwisata
seperti itu,” tambahnya.
Saat disinggung
terkait target pendamping desa, Ridha menyebutkan awalnya Dispar Kukar
menargetkan lima desa, namun dikarenakan adanya efisiensi yang merupakan
kebijakan pemerintah pusat dan keterbatasan waktu. Untuk tahun ini Dispar Kukan
menargetkan tiga desa yang akan diberikan pendampingan desa wisata.
Sementara itu M.
Fauzan Noor, narasumber dari dunia akademisi sekaligus Ketua Program Kegiatan
Pendampingan Desa Wisata desa, menyampaikan apresiasinya terhadap komitmen
Pemab Kukar dalam mendorong pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan desa
wisata.
Menurutnya kegiatan
ini merupakan bentuk nyata perhatian pemerintah terhadap transformasi
kepariwisataan berbasis komunitas, dan masyarakat sebagai peran utamanya.
Ia mengungkapkan
program pendampingan tahun ini dirancang dengan sepuluh tema yang mencakup
berbagai aspek penting. Mulai dari Manajemen Organisasi, Tata Kelola Keuangan,
Pengolahan Kuliner Berbasis Bahan Lokal, Pengelolaan Homestay.
Selain itu Praktik
Pemanduan Wisata, Pelatihan Public Speaking, Desain Kemasan Produk Usaha
Mikro Kecil Menengah (UMKM), hingga Strategi Promosi Digital.
“Peserta kegiatan
terdiri dari beragam unsur masyarakat. Antara lain Kelompok Sadar Wisata
(Pokdarwis), Karang Taruna, Koperasi Merah Putih, serta pelaku UMKM setempat,”
katanya.
Dalam kesempatan yang
sama Dini Zulfiani, dosen Program Studi (Prodi) Administrasi Publik, Fakultas
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Unmul menekankan pentingnya kolaborasi
lintas sektor dalam membangun desa wisata.
"Desa wisata
tidak akan berkembang karena satu kelompok yang hebat, tapi karena semua pihak
mau berjalan bersama," terangnya.
Dini menegaskan,
lembaga-lembaga seperti Pemerintah Desa, BPD, Pokdarwis, Badan Usaha Milik Desa
(BUMDes), koperasi, kelompok tani, Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK),
Karang Taruna, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), hingga Rukun Tetangga (RT),
harus menyatukan langkah demi terwujudnya visi bersama.
Sebab, ia menilai
visi dan misi organisasi perlu diselaraskan dengan arah pembangunan desa agar
setiap Langkah memiliki tujuan yang jelas dan terukur.
“Pendampingan bukan sekadar pelatihan sesaat, tetapi harus menghasilkan hal konkret yang bisa diterapkan demi tercapainya visi dan misi organisasi desa wisata secara berkelanjutan," tegasnya.
Program ini
diharapkan dapat memperkuat kelembagaan desa wisata, meningkatkan kapasitas
masyarakat, dan mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pariwisata berkelanjutan.
(Adv/Tan)