DPRD Kukar Tambah Anggaran Rp1 Miliar untuk Perkuat Perlindungan Anak, Kasus Kekerasan Jadi Alarm Serius
Ketua Komisi IV DPRD Kukar, Andi Faisal.
POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR: Kian maraknya kasus kekerasan terhadap anak di Kutai Kartanegara (Kukar), termasuk dugaan pelecehan di salah satu pondok pesantren, menjadi alarm serius bagi pemerintah daerah. Situasi ini mendorong DPRD Kukar memperkuat kebijakan perlindungan anak dengan menambah anggaran sekitar Rp1 miliar untuk Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) pada APBD 2026.
Ketua Komisi IV DPRD
Kukar, Andi Faisal, menegaskan bahwa tambahan anggaran tersebut bukan sekadar
formalitas anggaran belaka, tetapi komitmen nyata untuk memperkuat sistem
perlindungan anak dari tingkat kabupaten hingga desa.
“Kami dukung penuh agar
DP3A bisa bergerak lebih leluasa,” ujarnya belum lama ini.
Faisal menjelaskan, dana
tambahan itu akan diarahkan pada program yang bersentuhan langsung dengan
masyarakat, seperti edukasi pencegahan kekerasan, pendampingan psikososial,
pelatihan kader perlindungan anak, dan penguatan mekanisme pelaporan. Dengan
begitu, setiap kasus yang muncul dapat ditangani lebih cepat dan tepat.
“Anggaran ini akan dipakai
untuk program turun langsung ke lapangan, sosialisasi ke keluarga, dan
pelatihan kader perlindungan anak yang menjadi mata dan telinga di
kampung-kampung,” jelasnya.
Penambahan anggaran ini
juga menjadi respons nyata DPRD atas sejumlah kasus yang mencuat dalam beberapa
bulan terakhir. Bagi Faisal, penanganan kekerasan tidak boleh berhenti pada
proses hukum dan pemberitaan semata. Korban, katanya, harus mendapatkan
pemulihan menyeluruh.
“Jangan hanya berhenti
pada pemberitaan. Korban harus mendapat perlindungan menyeluruh,” tegasnya.
Selain penanganan kasus,
pencegahan turut menjadi fokus utama. DPRD Kukar mendesak lembaga pendidikan
keagamaan menerapkan panduan perlindungan anak, melakukan pelatihan bagi
pengasuh pesantren, hingga melakukan verifikasi latar belakang tenaga pengajar
untuk memastikan lingkungan belajar benar-benar aman.
Tambahan anggaran juga
diproyeksikan untuk membangun hotline pengaduan cepat, layanan konseling,
pelatihan deteksi dini bagi tenaga kesehatan dan kader posyandu, serta
pengembangan sistem pelaporan yang mudah diakses masyarakat tanpa rasa takut.
“Kami ingin warga bisa
melapor tanpa takut stigma. Perlindungan anak harus jadi gerakan bersama,” kata
Faisal.
Politisi PDI Perjuangan
itu menegaskan DPRD Kukar akan mengawal ketat penggunaan anggaran dan
pelaksanaan seluruh program agar tepat sasaran. Ia menegaskan bahwa prioritas
ini bukan untuk pencitraan, melainkan demi memastikan anak-anak di Kukar
terlindungi secara nyata.
“Kami tambah anggaran
bukan untuk pamer, tapi agar ada ruang kerja nyata bagi DP3A. Perlindungan anak
adalah prioritas kemanusiaan yang harus dikawal bersama,” pungkasnya.(ADV)