Warga Biatan Minta Pemkab Berau Hadir di Sengketa Perbatasan Berau–Kutim

img

POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Belum adanya kejelasan tapal batas antara Kabupaten Berau dan Kutai Timur (Kutim) saat ini tak lagi sekadar persoalan administrasi wilayah. Bagi warga Kampung Biatan Ilir dan Biatan Ulu, ini adalah soal rasa aman dan masa depan keluarga. Di tengah situasi yang kian memanas, masyarakat dua kampung tersebut memilih bertahan di lokasi sengketa. Mereka menegaskan tidak akan bergeser sebelum ada jaminan keamanan yang nyata dari pemerintah daerah.

 

Kepala Kampung Biatan Ilir, Abdul Hafid, menyampaikan keresahan warganya sudah berada di titik tertinggi. Ia menegaskan, ada tiga tuntutan utama yang menjadi kesepakatan bersama masyarakat.

 

 “Yang pertama, bagaimana masyarakat saya itu aman, baik di kehidupan sehari-hari maupun kelanjutannya,” ujar Abdul Hafid, Rabu (4/3/2026).

 

Menurutnya, keselamatan warga tidak bisa ditawar. Karenanya diharapkan kehadiran Pemkab Berau diminta tidak hanya menyampaikan janji, tetapi menunjukkan langkah konkret di lapangan. Tuntutan kedua adalah komitmen serius dari pemerintah daerah Berau untuk terus mengurus dan mempercepat penyelesaian tapal batas antara Berau dan Kutim. Warga ingin proses ini berjalan jelas dan terukur, bukan sekadar wacana.

 

Adapun tuntutan ketiga, Pemkab Berau diminta membuka peta dan titik koordinat secara transparan. Untuk itu Abdul Hafid mengusulkan agar Pemerintah Kabupaten Berau dan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur turun langsung bersama ke lapangan untuk memastikan letak batas wilayah yang sebenarnya.

 

“Kami minta sebaikanya Pemkab Berau maupun Pemkab Kutai Timur sama-sama turun ke lapangan. Cek langsung titik koordinatnya. Kalau sudah sama-sama melihat di lapangan, saya yakin tidak ada konflik. Karena saat ini seperti sama-sama belum tahu pasti di mana batasnya,” tegasnya.

 

Selain kepastian batas wilayah, warga juga mendesak pendirian Posko keamanan di wilayah Biatan. Mereka bahkan telah bersepakat, tim keamanan harus lebih dulu ditempatkan di lokasi sebelum warga bersedia meninggalkan titik sengketa.

 

“Kalau tim keamanan belum bergeser ke Biatan, masyarakat kami tidak akan bergeser. Itu sudah kesepakatan,” katanya.

 

Posko tersebut diharapkan berdiri hingga persoalan batas antara Kabupaten Berau dan Kutai Timur benar-benar selesai dan situasi dinyatakan kondusif. Hingga kini, suasana di kampung disebut masih diliputi kekhawatiran. Sebagian anak-anak warga masih berada di wilayah kampung, sehingga para orang tua memilih bertahan demi memastikan keamanan keluarga mereka.

 

“Masyarakat masih was-was. Karena anak-anak mereka ada di sana. Itu yang membuat mereka tetap bertahan,” ungkap Abdul Hafid.

Meski demikian, ia mengakui pertemuan yang digelar sebelumnya telah menghasilkan sejumlah poin kesepahaman awal. Namun bagi warga, kehadiran nyata pemerintah di lapangan menjadi kunci meredakan ketegangan yang terus membayangi wilayah perbatasan tersebut. Bagi masyarakat Biatan, sengketa ini bukan sekadar garis di atas peta. Ini tentang kepastian hidup, rasa aman, dan harapan agar negara benar-benar hadir ketika warganya merasa terancam. (sep/FN)