Tak Semua Sekolah di Kukar Wajib PJJ, Kualitas Udara Jadi Penentu
Sekda Kukar,
Sunggono. (Kriz)
POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR : Tak semua sekolah di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) wajib menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di tengah kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Pemerintah Kabupaten
(Pemkab) Kukar memberikan pilihan kepada sekolah untuk menentukan pola
pembelajaran dengan mempertimbangkan kualitas udara di lingkungan sekolah
masing-masing.
Sekretaris Daerah
(Sekda) Kukar, Sunggono, mengatakan kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut
dari Surat Edaran (SE) Bupati Kukar.
“Kebijakan Kepala
Dinas Pendidikan yang merupakan tindak lanjut dari SE Bupati itu memberikan
pilihan sebenarnya kepada semua sekolah sesuai dengan kualitas udara di
masing-masing sekolah atau lingkungan sekolahnya untuk PJJ atau tidak,
pembelajaran jarak jauh atau tidak,” ujarnya saat ditemui di gedung DPRD pada
Jumat (5/9/2026).
Dengan kebijakan
tersebut, pelaksanaan pembelajaran dapat berbeda antara satu sekolah dengan
sekolah lainnya.
Sekolah yang kondisi
udaranya masih memungkinkan dapat mempertahankan pembelajaran tatap muka.
“Jadi kalau mungkin
teman-teman masih mendapatkan informasi ada sekolah yang masih melaksanakan
sekolah secara offline, ya saya kira kualitas udara di situ bagus dan
sebaliknya,” jelasnya.
Kebijakan tersebut turut berkaitan dengan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi siswa di sekolah yang menerapkan PJJ. Ia mengatakan teknis penyaluran makanan dapat disesuaikan antara sekolah dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Ya diserahkan ke
sekolah. Nanti anak-anak ambil ke sekolah atau gurunya,” jelasnya.
Sekolah yang memilih
menyesuaikan mekanisme penyaluran MBG juga diperbolehkan melakukannya melalui
kesepakatan dengan SPPG.
Terkait jumlah
sekolah yang menerapkan penyesuaian pembelajaran, ia mengatakan Pemkab Kukar
masih melakukan pendataan dan koordinasi karena kebijakan tersebut baru
diterapkan.
Pemkab Kukar juga
terus memperbarui informasi mengenai wilayah dengan kualitas udara yang buruk.
Data tersebut menjadi bahan koordinasi dengan Satgas MBG agar pelaksanaan
kegiatan di sekolah dapat disesuaikan dengan kondisi udara.
“Kalau
wilayah-wilayah yang kualitas udaranya sangat buruk, kita update terus data itu
kepada teman-teman di Satgas MBG. Jangan ada aktivitas belajar secara offline
dan sebagainya,” tegasnya.
Di sisi lain, SMP
Negeri 3 Tenggarong menjadi salah satu sekolah yang memilih mengalihkan
kegiatan belajar mengajar ke sistem PJJ di tengah kondisi kualitas udara yang
kurang baik.
Perubahan pola
pembelajaran tersebut tidak membuat aktivitas guru terhenti, para siswa
mengikuti materi dari rumah, sementara guru tetap datang ke sekolah dan
mengajar menggunakan sejumlah platform pembelajaran daring.
Wakil Kepala Sekolah
Bidang Kesiswaan SMPN 3 Tenggarong, Inawati mengatakan, pembagian tugas guru
disesuaikan dengan mata pelajaran dan metode pembelajaran yang digunakan
masing-masing pengajar.
“PJJ itu sebenarnya
muridnya aja. Gurunya itu semua di sekolah. Karena ada Zoom, ada yang Google
Meet, ada yang di sini, ada yang ke kelas,” ujarnya.
Agar proses belajar
tidak saling mengganggu, para guru tidak dikumpulkan dalam satu ruangan.
Mereka menggunakan
ruang kelas masing-masing untuk menyampaikan materi kepada siswa yang berada di
rumah.
“Kalau numpuk di
sini, di aula terlalu bising. Jadi ke kelas-kelas teman-teman, itu seperti
itu,” kata dia.
Pola tersebut relatif
mudah diterapkan karena SMPN 3 Tenggarong telah memiliki infrastruktur
pembelajaran digital.
Sekolah menyediakan
Chromebook bagi siswa dan guru, serta dilengkapi jaringan WiFi, router hingga
papan tulis digital di ruang kelas.
Dukungan teknologi
membuat komunikasi antara guru dan siswa tetap dapat berlangsung meski keduanya
berada di lokasi berbeda.
Namun demikian, ia
menyebut pembelajaran secara langsung masih memiliki keunggulan karena guru
dapat melihat respons siswa secara lebih mudah.
“Lebih enak di
sekolah sebenarnya. Kita tidak begitu repot langsung ke kelas, bertatap muka
langsung dengan anak, berinteraksi,” ungkapnya.
Perubahan sistem
pembelajaran turut memengaruhi mekanisme pemberian Makan Bergizi Gratis (MBG)
di SMPN 3 Tenggarong.
Selama siswa belajar
dari rumah, sekolah memilih menghentikan sementara distribusi MBG.
Keputusan tersebut
diambil dengan mempertimbangkan efektivitas penyaluran makanan ketika siswa
tidak berada di sekolah.
Ia mengatakan siswa
juga tidak menunjukkan persoalan berarti dengan penghentian sementara tersebut.
“Tanggapan anak-anak
biasa saja. Karena mereka belajar dari rumah, jadi mereka tidak kecewa atau
bagaimana, biasa saja,” ujarnya.
Sekolah mengambil
keputusan itu berdasarkan pengalaman ketika sebelumnya pernah menjalankan
pembelajaran daring.
Saat itu, siswa yang
sudah berada di rumah harus kembali ke sekolah apabila ingin mengambil makanan
MBG.
Menurutnya, kondisi
tersebut membuat jumlah siswa yang datang mengambil makanan jauh lebih sedikit
dibandingkan jumlah penerima.
“Anak-anak kami
biasanya kalau sudah berada di rumah, kemudian harus datang ke sekolah untuk
mengambil MBG, mereka cenderung malas. Akhirnya, banyak makanan MBG yang tidak
diambil,” kata dia.
Dari pengalaman
tersebut, jumlah siswa yang datang ke sekolah untuk mengambil MBG hanya berada
di kisaran 20 hingga 25 persen.
“Karena itu, pihak
sekolah mengambil keputusan seperti ini berdasarkan pengalaman sebelumnya,”
jelasnya.
Untuk penerapan setelah masa PJJ berakhir, sekolah masih akan membahas kembali mekanisme pembelajaran sekaligus penyaluran MBG.
“Nanti kepala sekolah
dan pihak SPPG akan melakukan kesepakatan lagi. Yang pasti, sampai tanggal 8
sudah mendapat persetujuan,” tutupnya. (Kriz)