Setelah Hampir Sebulan Terbakar, Karhutla Muara Muntai Akhirnya Zero

img

Kondisi lahan di Kecamatan Muara Muntai setelah karhutla telah dipadamkan total atau zero oleh petugas. (Doc. Pemerintah Kecamatan Muara Muntai)

 

POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR : Setelah hampir sebulan terbakar, karhutla di Kecamatan Muara Muntai, Kutai Kartanegara (Kukar), akhirnya dipastikan zero. Titik-titik api yang sebelumnya menyulitkan proses pemadaman kini telah berhasil ditangani hingga tidak lagi ditemukan api maupun asap di lokasi utama kebakaran.

 

Camat Muara Muntai, Mulyadi mengatakan, kondisi tersebut merupakan hasil penanganan yang dilakukan bersama sejumlah pihak.

 

Titik kebakaran yang sebelumnya sulit dijangkau kini telah berhasil ditangani, termasuk area yang berada jauh di dalam lahan.

 

“Alhamdulillah, semuanya sudah tertangani. Kondisinya sudah zero,” ujarnya kepada Poskotakaltimnews pada Sabtu (5/9/2026).

 

Ia menyebut, kebakaran mulai terjadi sekitar 8-9 Agustus. Artinya, penanganan berlangsung hampir satu bulan hingga seluruh titik yang menjadi perhatian berhasil dipadamkan.

 

Ia menuturkan bahwa salah satu kendala terbesar berada pada karakteristik lahan yang terbakar.

 

Ia menyebut sebagian lokasi merupakan lahan gambut dengan kedalaman yang diperkirakan lebih dari dua meter. Kondisi tersebut membuat api sulit dijangkau dan proses pemadaman membutuhkan peralatan khusus.

 

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran Dinas Pemadaman dan Penyelamatan (Disdamkarmatan) Kukar yang turut membantu penanganan di lokasi.

 

Menurutnya, keberadaan personel dan peralatan Disdamkarmatan sangat membantu menjangkau titik-titik yang sulit ditangani.

 

Ia mengatakan petugas Damkar memiliki peralatan yang mampu menjangkau lokasi dengan jarak cukup jauh.

 

“Kita bersyukur, alhamdulillah, kemarin mendapat bantuan dari teman-teman Damkar. Damkar memiliki peralatan yang cukup lengkap untuk menjangkau titik-titik yang sulit,” tuturnya.

 

Keberhasilan penanganan tersebut sekaligus menjadi evaluasi bagi pemerintah kecamatan.

 

Ia mengatakan kebutuhan sarana dan prasarana untuk menghadapi karhutla masih menjadi perhatian, terutama peralatan yang memiliki jangkauan lebih panjang.

 

“Yang masih kita perlukan sebenarnya adalah peralatan yang memiliki jangkauan lebih jauh,” ungkapnya.

 

Menurutnya, fasilitas untuk penanganan kebakaran di lokasi yang dekat relatif tersedia. Namun, kondisi berbeda ketika titik api berada jauh dari sumber air.

 

“Intinya, kalau tidak ada peralatan yang memadai, kita juga bisa putus asa,” ucapnya.

 

Sementara itu, Kepala Disdamkarmatan Kukar, Fida Hurasani memastikan titik kebakaran di kawasan Kecamatan Muara Muntai yang sebelumnya menjadi perhatian telah padam total.

 

Ia mengatakan kepastian itu diperoleh setelah tim melakukan penanganan langsung dan memastikan tidak ada lagi api maupun asap di lokasi.

 

Meski kondisi telah dinyatakan zero, ia tidak ingin tim langsung menganggap penanganan selesai tanpa pengecekan lanjutan.

 

Dua tim yang sebelumnya berada di lapangan kembali melakukan pemantauan untuk memastikan tidak ada titik panas yang tersisa.

 

Ia menyebut pengecekan dilakukan menggunakan drone untuk melakukan pemantauan pada malam hari.

 

“Mereka kembali lagi melihat pantauan dari drone apakah masih ada titik merah, kalau malam lebih jelas lagi titik apinya. Mudah-mudahan malam ini tidak ada,” ujarnya.

 

Dalam proses pemadaman, petugas menghadapi tantangan jarak antara sumber air dan titik kebakaran.

 

“Jaraknya tadi dari titik air kita itu kurang lebih 600 meter. Kita masuk, jadi selang kita itu 600 meter. Kita gelar peralatan,” jelasnya.

 

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan perhitungan yang matang.

 

Petugas harus mengetahui koordinat titik api, jarak sumber air, akses menuju lokasi, kebutuhan selang, serta kemampuan peralatan sebelum menentukan pola penanganan.

 

Ia mengingatkan, api di lahan dapat terus bergerak sehingga keterlambatan sedikit saja bisa membuat jarak titik api semakin jauh dari posisi awal penanganan.

 

“Jadi tidak boleh kira-kira. Makanya kekuatan surplus kita harus kita hitung benar-benar. Jangan sampai ke lapangan main kita itu tidak tuntas,” kata dia.

 

Ia menilai penanganan yang tidak tuntas justru berpotensi meninggalkan pekerjaan baru, api yang masih tersisa dapat kembali menjalar dan membuat area yang harus ditangani semakin luas.

 

Karena itu, pemetaan menjadi langkah penting sebelum petugas bergerak, selain mengetahui lokasi titik api, tim perlu memastikan wilayah yang terbakar, termasuk apakah berada di kawasan konsesi perusahaan atau berdekatan dengan permukiman masyarakat.

“Yang penting pemetaan dulu. Itu wilayah siapa, atau dia konsesi, atau dia berdekatan dengan penduduk atau pemukiman. Yang penting kita jelas,” pungkasnya. (Kriz)