PDAM Samboja Kekurangan Air Baku, Pemkab Kukar Siapkan Alternatif dari Waduk BWS
Oleh Admin3 menit baca321 dibaca

KUKAR, POSKOTAKALTIMNEWS : Keterbatasan sumber air baku yang menopang operasional PDAM di wilayah Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), membuat pemerintah daerah mulai mencari sumber pasokan alternatif.
Salah satu upaya yang kini dijajaki adalah pemanfaatan waduk milik Balai Wilayah Sungai (BWS) yang berada di kawasan Samboja untuk menambah ketersediaan air baku sekaligus menjaga keberlangsungan pelayanan air bersih kepada masyarakat.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kukar, Sunggono, mengungkapkan bahwa berkurangnya debit air dari sumber utama telah berdampak langsung terhadap kemampuan produksi PDAM.
Kapasitas pengolahan yang sebelumnya mampu menghasilkan sekitar 80 liter air per detik, kini mengalami penurunan hingga separuhnya atau hanya berkisar 40 liter per detik.
Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah karena ketersediaan bahan baku sangat menentukan kemampuan PDAM dalam memenuhi kebutuhan pelanggan.
Menurutnya, penurunan debit air tidak terlepas dari kondisi cuaca yang belum mendukung pemulihan sumber air.
Hujan yang turun secara tidak merata membuat tambahan pasokan ke waduk belum mencukupi untuk mengembalikan ketersediaan air seperti kondisi normal.
Persoalan tersebut juga telah disampaikan langsung oleh Direktur Utama PDAM saat bertemu dengannya untuk membicarakan sejumlah langkah yang dapat ditempuh dalam menghadapi keterbatasan pasokan.
“Tadi pagi saya justru dapat tamu dari Direktur Utama PDAM yang menyatakan bahwa debit air kita ini masih sangat rendah. Karena hujannya juga masih sporadis, debitnya masih belum normal,” ungkapnya saat ditemui pada Senin (2/11/2026).
Di tengah kondisi tersebut, Pemkab Kukar mulai melihat potensi waduk milik BWS sebagai salah satu alternatif untuk memperkuat ketersediaan air baku di Samboja.
Waduk yang sebenarnya telah lama dibangun itu dinilai memiliki peluang untuk dimanfaatkan dalam mendukung kebutuhan pengolahan air bersih.
Namun, penggunaannya selama ini belum menjadi bagian dari sumber pasokan PDAM sehingga diperlukan peninjauan lebih lanjut sebelum rencana tersebut dapat direalisasikan.
Salah satu hal yang menjadi pertimbangan adalah posisi waduk yang tidak berdekatan dengan fasilitas penampungan milik PDAM.
Jarak antara waduk dan reservoir terdekat diperkirakan mencapai 5 hingga 7 kilometer.
Kondisi geografis tersebut membuat rencana pemanfaatannya tidak cukup hanya dengan memastikan ketersediaan air, tetapi juga perlu memperhitungkan kebutuhan jaringan penyaluran serta kemungkinan pengolahan air sebelum masuk ke sistem distribusi.
“Ada waduk yang dibuat oleh BWS, tapi waduk lama sebenarnya. Dan memang jaraknya agak jauh, kenapa sampai sekarang baru dijadikan alternatif untuk dimanfaatkan. Jaraknya itu dari reservoir terdekat milik PDAM itu hampir sekitar 5-7 kilometer,” jelasnya.
Untuk mengetahui potensi yang dimiliki waduk tersebut, Pemkab Kukar mulai mengambil langkah dengan meminta Direktur Utama PDAM turun langsung ke lapangan.
Peninjauan akan dilakukan melalui koordinasi bersama camat setempat dan pihak BWS, sehingga kondisi sumber air dapat diperiksa secara langsung oleh pihak-pihak yang berkaitan dengan pengelolaan maupun pelayanan air bersih di wilayah tersebut.
Pemeriksaan itu nantinya tidak hanya melihat kondisi fisik waduk, tetapi juga memastikan kecukupan debit air yang tersedia untuk kebutuhan produksi.
Selain itu, perlu diketahui apakah air dari waduk tersebut memungkinkan untuk diolah menjadi air baku PDAM, termasuk bagaimana skema penyalurannya menuju reservoir terdekat.
Hasil kajian lapangan akan menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan kelanjutan rencana pemanfaatan sumber air alternatif tersebut.
“Beliau hari ini saya perintahkan untuk langsung datang ke lapangan, menemui camat. Kemudian menemui beberapa pihak, termasuk dari BWS yang memiliki waduk di sana, untuk memastikan apakah memang debit airnya itu bisa kita olah menjadi air baku untuk PDAM, untuk warga Samboja dan sekitarnya,” pungkasnya. (Adv/Kriz)




