Minggu, 8 November 2026
Poskotakaltimnews.com
Iklan

Golden Lumpia Beef Hadirkan Menu Kekinian untuk Pecinta Kuliner Tenggarong

Oleh Admin5 menit baca234 dibaca

Putri Nurhamia, owner Golden Lumpia Beef. (Kriz)
Putri Nurhamia, owner Golden Lumpia Beef. (Kriz)
BagikanWhatsAppFacebookX

KUKAR, POSKOTAKALTIMNEWS : Pilihan kuliner di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), menjadi semakin beragam dengan hadirnya Golden Lumpia Beef.

Usaha kuliner milik Putri Nurhamia ini menawarkan sejumlah menu kekinian, mulai dari lumpia beef dengan aneka varian rasa hingga Pochick, sajian kentang dan ayam pop dengan pilihan saus yang menggugah selera.

Berawal dari keinginan memiliki usaha sendiri, Putri berhasil mengembangkan bisnis kuliner Golden Lumpia Beef yang berlokasi di Jalan Rondong Demang, Kelurahan Panji, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

Di usianya yang baru 20 tahun, ia membuktikan bahwa keberanian memulai dari skala kecil dapat membuka jalan untuk membangun usaha secara mandiri. Usaha yang mulai beroperasi pada 30 Maret 2026 itu sekaligus menjadi pengalaman pertama Putri terjun ke dunia bisnis.

Sebelum memiliki outlet, Ia lebih dahulu menjalankan penjualan dari rumah sembari mengumpulkan modal dari hasil bekerja. Keinginan untuk tidak selamanya bekerja dengan orang lain menjadi salah satu alasan dirinya memberanikan diri memulai usaha secara mandiri.

Respons positif pelanggan terhadap produk yang dijual dari rumah kemudian membuka peluang untuk mengembangkan bisnis melalui outlet sendiri.

“Waktu itu saya ingin punya usaha sendiri. Jadi, sambil bekerja saya sisihkan uang sedikit demi sedikit. Setelah mulai berjualan dari rumah dan ternyata peminatnya semakin banyak, akhirnya saya memberanikan diri membuka outlet,” ujarnya kepada Poskotakaltimnews saat ditemui di Outlet pada Sabtu (7/11/2026).

Dalam mengembangkan usahanya, Putri memilih lumpia beef sebagai produk utama dengan konsep yang berbeda dari sajian pada umumnya.

Jika biasanya lumpia identik dengan isian sayuran atau kentang, produk racikannya memadukan daging sapi, aneka sayuran, dan makaroni.

Pilihan menunya pun cukup beragam, untuk kategori original, tersedia lumpia sosis, smoke beef, crab stick, chicken pattie, beef pattie, hingga lumpia special. Harganya dibanderol mulai Rp13 ribu hingga Rp20 ribu.

Bagi pelanggan yang menyukai cita rasa lebih kuat, tersedia Mentai Edition dengan pilihan lumpia crab stick mentai seharga Rp18 ribu, beef mentai dan chicken mentai masing-masing Rp20 ribu, serta special mentai Rp25 ribu.

Sementara itu, Premium Edition menawarkan lumpia beef belly seharga Rp30 ribu dan beef belly special Rp35 ribu.

Pelanggan juga dapat menambahkan topping sesuai selera, seperti saus pedas atau manis, keju slice, chicken pattie, dan beef pattie dengan harga tambahan mulai Rp2 ribu hingga Rp6 ribu.

Tidak hanya lumpia, Golden Lumpia Beef turut menghadirkan menu Golden Pochick.

Sajian berbahan kentang dan ayam pop ini tersedia dalam tiga pilihan saus, yakni Pochick Lava seharga Rp18 ribu, Pochick Cheese Rp23 ribu, serta Pochick Garlic Rp28 ribu, masing-masing dilengkapi saus sesuai varian dan mayones.

Pilihan lainnya adalah mac and chips dengan paket hemat mini dan sharing dengan beberapa varian saus, mulai dari lava, cheese, mentai, hingga garlic.

Harganya berkisar Rp15 ribu sampai Rp23 ribu untuk paket mini, sedangkan paket sharing dibanderol Rp27 ribu hingga Rp35 ribu.

Putri menjelaskan mac and chips, yakni menu dengan perpaduan makaroni dan chips dalam satu sajian. Menu ini dihadirkan Putri setelah melihat tren kuliner yang sempat populer di Amerika.

Karena belum banyak dijumpai di Tenggarong, ia tertarik membawanya sebagai pilihan tambahan bagi pelanggan. Selain itu, tersedia pula aneka minuman dingin untuk melengkapi pilihan pelanggan.

“Saya memang suka mencoba sesuatu yang berbeda. Kalau melihat ada menu yang menarik dan belum banyak dijual di sini, biasanya saya tertarik untuk menghadirkannya. Ternyata respons pelanggan juga cukup baik,” ujarnya.

Kalangan anak muda, khususnya generasi Z, menjadi sasaran pasar utama.

Meski demikian, variasi produk yang ditawarkan membuat Golden Lumpia Beef dapat dinikmati berbagai kelompok usia.

Perlahan, usaha tersebut mulai dikenal lebih luas, pelanggannya tidak hanya berasal dari Tenggarong dan daerah sekitar Kukar, tetapi juga ada yang datang dari luar Kalimantan untuk membeli produknya.

Lokasi outlet yang berdekatan dengan kawasan wisata Waduk Panji turut memberikan keuntungan tersendiri.

Pengunjung yang hendak berwisata kerap menyempatkan diri mampir untuk membeli makanan.

Begitu pula masyarakat yang beraktivitas di sekitar taman replika, termasuk mereka yang datang untuk jogging.

Dari usaha tersebut, Putri menyebut pendapatan bersih yang diperoleh dapat mencapai sekitar Rp1 juta dalam sehari.

Capaian itu menjadi pengalaman sekaligus motivasi untuk terus mengembangkan bisnis yang baru pertama kali dirintisnya.

Meski demikian, mempertahankan usaha kuliner bukan perkara mudah, persaingan yang semakin ketat serta kenaikan harga bahan baku menjadi tantangan yang harus diperhitungkan.

Kenaikan harga ayam dan kentang, misalnya, berpengaruh terhadap biaya produksi.

Di sisi lain, menaikkan harga jual bukan keputusan sederhana karena harus mempertimbangkan daya beli pelanggan.

Menurutnya, konsumen cenderung menginginkan makanan berkualitas dengan harga yang tetap terjangkau.

Kondisi tersebut membuat pelaku usaha harus cermat mengatur strategi agar kualitas produk tetap terjaga tanpa membebani pembeli.

“Sekarang kita memang harus pintar-pintar berinovasi. Harga bahan baku bisa naik sewaktu-waktu, tetapi kalau harga jual ikut dinaikkan, pelanggan juga akan mempertimbangkannya. Jadi, setiap mengambil keputusan harus benar-benar dihitung,” ungkapnya.

Di tengah tantangan tersebut, Putri tetap memiliki rencana untuk memperluas jangkauan Golden Lumpia Beef.

Ia tertarik membuka outlet tambahan di kawasan perkotaan, meskipun hingga kini belum menentukan lokasi maupun waktu pelaksanaannya.

Menurutnya, perjalanan membangun usaha bukan hanya tentang mendapatkan keuntungan, tetapi juga keberanian untuk keluar dari zona nyaman.

Ia ingin pengalamannya menjadi gambaran bahwa anak muda memiliki kesempatan yang sama untuk membangun kemandirian melalui dunia usaha.

Ia pun berpesan agar generasi muda tidak terlalu memikirkan pandangan orang lain ketika hendak memulai sesuatu.

Sebab, rasa malu dan gengsi justru bisa menghalangi seseorang untuk mengambil kesempatan.

“Jangan pernah malu dan gengsi. Karena kalau masih gengsi, kita tidak akan menjadi apa-apa,” pesannya.

Putri berharap semakin banyak anak muda yang berani mengembangkan potensi, menciptakan ide kreatif, dan membangun peluang usaha secara mandiri.

“Saya ingin pemuda sekarang lebih mandiri, kreatif, produktif, dan berani menciptakan peluang, bukan hanya menunggu peluang datang. Usia muda bukan penghalang untuk memulai usaha dan meraih kesuksesan. Intinya, harus ada kemauan,” tutupnya. (Kriz)

BagikanWhatsAppFacebookX