Jirun Berdagang Kerupuk Keliling, Pandemi Covid-19 Tak Menghalangi

img

///Keterangan FOTO :  Jirun pedagang kerupuk keliling  Kubar. (foto : ran/poskota kaltim)///


SENDAWAR – Di masa pandemi Covid-19 ini, hanya keuletan masyarakat berusaha untuk bisa bertahan hidup mencukupi kebutuhan sehari-hari dalam ekonomi yang nyaris stagnan. 

Hal itu diakui oleh Jirun, salah satu penjual kerupuk keliling di Kabupaten Kutai Barat (Kubar). Pria kelahiran Rembang, Jawa Tengah pada 1967 itu saat ini berdomisili di Kampung Muara Bunyut, Kecamatan Melak, Kubar. 

“Ekonomi cukup parah merosot sejak pandemi Covid-19 merambah Kubar mulai penghujung tahun lalu,” katanya kepada Poskota Kaltim, dalam bincang santai di Warung Minyak Jinggo (MJ), Kelurahan Barong Tongkok, Sendawar, Sabtu (19/9/2020).

Dia bercerita banyak, bagaimana harus bertahan menghidupi keluarganya dengan 3 anak. Banyak pekerjaan yang sudah pernah digelutinya. Sempat berdagang mainan anak-anak, alat dapur, bahkan pernah menjadi ‘penadah’ besi tua.

“Kehidupan itu keras. Apalagi saat COVID-19 ini, semua serba salah. Berjualan tapi kurang pembeli,” ucapnya.

Ternyata Jirun adalah pria tangguh dalam berusaha. Dia tidak mau menyerah demi kehidupan keluarganya. Sekali waktu dia berpikir, motivasi hidup adalah 3K (Tiga K). Yaitu kekurangan, kemauan, dan keinginan.

“Saya memiliki motivasi itu sejak menikah pada 1993 silam. Sejak beberapa bulan lalu saya putar haluan, berdagang kerupuk keliling Kubar,” ungkap pria yang memiliki anak sulung bernama Muhammad Abdul Burhanuddin, yang merupakan alumnus Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda. 

Ayah dari Muhammad Abdul Burhanuddin itu bercerita, dengan menggunakan sepeda motor ‘butut’ dia berkeliling Kubar, berdagang kerupuk. Setiap hari berkeliling membawa seribu bungkus kerupuk, dijual dengan harga Rp 4 ribu perbungkus.

“Kadang terjual 600 bungkus perhari. Saya hanya mendapat untung seribu rupiah perbungkus,” kata Jirun, yang merantau dari Pulau Jawa ke Kubar sejak 1999 silam. 

“Syukur alhamdulillah, meski kondisi pandemi ini Allah maha adil. Rezeki itu tetap datang untuk menghidupi keluarga saya. Hanya kemauan bekerja harus ada,” tukasnya. 

Hal menarik, Jirun membeli kerupuk mentah. Kemudian digoreng dan dibungkus dirumahnya. “Setelah dikurangi dengan modal bahan baku, saya masih dapat untung seribu rupiah perbungkus,” bebernya. 

“Untuk kedepan kalau ada modal saya mau menjadi distributor kerupuk,” tandasnya.(ran/jor)