Komisi IV DPRD Tanggapi LKPJ Terkait Penanganan Covid-19
(Salehuddin)
POSKOTAKALTIMNEWS.COM,SAMARINDA
–
Menanggapi terkait dengan LKPJ (Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban)
penanganan Covid-19 2020, Sekretaris Komisi IV DPRD Kalimantan Timur Salehuddin
SSos, Sfil mengatakan, jika pihaknya sedari awal telah berupaya melakukan koordinasi
terkait dengan realisasi anggaran penanganan Covid-19.
Pada rapat Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban
(LKPJ), Selasa (13/4) lalu, terkait anggaran penanganan Covid-19 tahun 2020,
untuk Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) sebesar Rp 500 miliar yang digunakan
untuk tiga komponen prioritas saat ini.
Diantaranya, penanganan kesehatan sebesar
Rp250 miliar. Kedua terdampak ekonomi karena corona, sebesar Rp95 miliar.
Ketiga penyediaan jaring pengaman social senilai Rp155 miliar. Dalam laporan
LKPJ Gubernur dan Wakil Gubernur Kaltim, tahun anggaran 2020 dana yang terserap
hanya 48 persen.
Menurutn Salehuddin karena situasi Covid-19
pada saat terjadi, ada proses adaptasi yang dilakukan oleh organisasi perangkat
daerah (OPD) yang bersangkutan. Proses adaptasi itu misalnya belanja tidak
langsung, belanja tak terduga mekanismenya tidak sama demean mekanisme belanja
normal.
“Misalnya bantuan jaringan pengamanan social
tidak berjalan dengan cepat, karena Dinas Sosial perlu melakukan verifikasi
beberapa kali.”katanya.
Karena beberapa data yang disampaikan itu,
terduplikasi satu sampai dua kali. Sehingga Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset
Daerah (BPKAD), tidak serta merta melakukan realisasi pembayaran.
Dalam pengadaan kesehatan, menurut Wakil
Rakyat Dapil Kukar itu, kenapa tidak terealisasi dengan baik, karena pada saat
pengadaan baju asmat misalnya tidak serta merta ada. Karena pada saat itu
kondisi barangnya langka dan sulit sehingga perlu waktu.
Termasuk menurutnya yang terdampak secara
ekonomi Dinas Prindakom, Dinas Pariwisata, Dinas Kelautan, pada saat proses
masuk beberapa warga masyarakat terdampak, data tidak tersaji demean baik dan
tidak bisa tereksekusi BPKAD.
“Sehingga hal tersebut menjadi bagian
permasalahan, menyebabkan realisasi menurut mereka cukup kecil,” ucapnya
Selain itu juga untuk bantuan tak terduga
khusus Covid-19, memang melibatkan banyak unsur. Sesuai dengan kebijakan
pemerintah ada beberapa OPD, misalnya BAdan Penanggulangan Bencana Daerah,
Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Diskominfo, Dinas Ketenagakerjaan dan lain-lain
yang berhimpun jadi satu.
“Kehati-hatian juga menjadi pertimbangan mereka
sehingga perlambatan dalam proses,” ucapnya.
Tapi secara umum pihaknya mengapresiasi apa
yang sudah dilakukan, tetapi harapannya kedepan realisasi bisa berjalan lebih
cepat. Hal tersebut agar bantuan pengadaan kesehatan, tidak harus menunggu lama
sehingga proses pelayanan terutama Covid-19 bisa terealisasikan dengan cepat.(adv/dn)