Budaya Literasi di MTs Negeri 1 Kutai Kartanegara
Sapini
MTs Negeri 1 Kutai
Kartanegara adalah sekolah yang terletak di jalan Danau Murung, Kecamatan Tenggarong,
Kabupaten Kutai Kartanegara. Merupakan satu-satunya sekolah MTs Negeri yang ada
di Tenggarong dengan jumlah siswa sekitar 660
dengan 21 rombel kelas.
Sejak
tahun 2019 akhir telah memiliki pojok baca untuk setiap kelas, yang didesain
khusus oleh para siswa bersama wali kelas untuk mendukung budaya literasi.
Sejak saat itu juga dibuat jadwal khusus untuk waktu literasi di sekolah
sekitar 15 menit diantara jam pembelajaran.
Para
siswa juga sangat mendukung kegiatan literasi ini dengan cara membawa buku-buku
bacaan yang mereka punya untuk dibawa dan di letakkan pada pojak baca yang
mereka buat agar dapat berbagi dengan teman-teman mereka di sekolah.
Pelaksanaan
Budaya Literasi di MTs Negeri 1 Kutai Kartanegara, dilaksanakan dengan
mempertimbangkan kesiapan sekolah. Persiapan ini mencakup kesiapan kapasitas Madrasah
(ketersediaan bahan bacaan, fasilitas, sarana dan prasarana literasi), siapnya
warga Madrasah, dan persiapan sistem pendukung lainnya (dukungan kelembagaan,
perangkat kebijakan yang relevan, dan partisipasi publik).
Pertama,
yaitu tahap pembiasaan, pada tahap ini kegiatan literasi bertujuan untuk
menciptakan kesenangan. Melalui kesenangan itulah nanti diharapkan bisa
menumbuhkan minat membaca dan menulis para siswa. Tahap pembiasan dilakukan
dengan dua cara, yaitu membaca nyaring dan membaca dalam hati, oleh siswa itu
sendiri.
Kedua,
yaitu tahap pengembangan, pada tahap pengembangan ini, diharapkan kemampuan dan
keinginan membaca para peserta didik sudah mulai muncul. Agar keinginan atau minat
membaca mereka tidak hilang, diperlukan adanya tahap-tahap pengembangan. Adapun
kegiatan yang bisa dilakukan di tahap pengembangan ini diantaranya: memberikan
komentar (lisan maupun tulisan) pada buku/jurnal/makalah yang sudah dibaca, menulis
jurnal tanggapan terhadap buku yang sudah dibaca, memanfaatkan graphic organizer
sebagai alat untuk menulis tanggapan, dan embuat suatu kesimpulan sistematis
dari buku yang sudah dibaca.
Ketiga, yaitu tahap pembelajaran, pada tahap ini, peserta didik sudah otomatis terlatih untuk menerapkan budaya literasi di lingkungan sekolah. Adapun kegiatan yang bisa dilakukan pada tahap ini adalah kebiasaan membaca 15 menit sebelum pembelajaran dimulai.
Kegiatan ini bisa berupa membaca nyaring, membaca dalam
hati, membaca bersama, atau membaca secara terintegrasi dengan beberapa
indikator dan memanfaatkan berbagai jenis bacaan, misalnya bacaan cetak,
visual, auditori, dan digital. Maka dari itu, peserta didik dapat menambah dan memperkaya
literasi mereka diluar bacaan pelajaran.
Selanjutnya memahami tahap dalam melaksanakan literasi Sekolah, langkah berikutnya mengetahui langkah literasi dalam melaksanaan pembelajaran yang meliputi sebelum, saat serta setelah membaca. Sebelum membaca, para peserta didik akan diberi buku bacaan dan mereka diminta untuk memahami tujuan membaca buku tersebut. Dalam tahap ini, peserta didik juga harus dapat memperkirakan isi-isi buku yang akan dibaca.
Selama membaca, peserta didik harus dapat
mengidentifikasi informasi relevan yang terdapat di dalam bacaan, mencari kata-kata
kunci, serta menemukan kosakata yang baru. Setelah membaca, peserta
didik harus dapat menyimpulkan teks yang telah mereka baca, baik secara lisan ataupun
tulisan.
Menurut
Lerner (1988:349) kemampuan membaca merupakan dasar untuk menguasai berbagai
bidang studi. Jika anak pada usia sekolah permulaan tidak segera memiliki
kemampuan membaca, maka ia akan mengalami banyak kesulitan dalam mempelajari
berbagai bidang studi pada kelas-kelas berikutnya.National Institute for
Literacy, mendefinisikan Literasi sebagai “kemampuan individu untuk membaca,
menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian
yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat.”
Budaya literasi di MTs Negeri 1 Kutai Kartanegara sangat didukung oleh para warga sekolah dan orang tua. Dengan adanya kegiatan literasi ini dan menjadikannya menjadi sebuah budaya, maka pelakunya akan banyak mendapatkan manfaat. Budaya literasi yang dilakukan di MTs Negeri 1 Kutai Kartanegara tidak hanya sebatas membaca buku pelajaran, namun juga bisa koran bacaan hiburan seperi novel, cerpen dan majalah. Dengan begitu para siswa dapat mendapat pengetahuan yang luas karna tidak hanya terpaku pada satu subjek bacaan.
Para siswa juga akan
tergerak untuk menulis sendiri karya-karya mereka, yang dapat dinikmati untuk
banyak orang, serta keterampilan berbicara yang fasih dan banyak kosa kata yang
didapat dari membaca.
Dalam beberapa sejarah peradaban agama islam, kita dapat melihat dan menemukan bagaimana budaya Literasi islam menciptakan tulisan-tulisan dari para pemikir dan ulama islam klasik yang sudah berumur ratusan tahun tapi masih tetap eksis dipelajari di berbagai lembaga pendidikan islam, khususnya pesantren dan sekolah madrasah.
Kitab-kitab yang ditulis para ulama kita dan intelektual
muslim di era klasik merupakan sebuah
warisan intelektual yang berharga bagi pengembangan khazanah intelektual islam
dari generasi ke generasi seperti siswa kita pada saat ini. Dengan Tulisan
dapat menembus dan menelusuri lorong ruang dan waktu di masa lampau, dan
menjadi jembatan ke masa depan.
Alhamdulillah
sudah banyak sekolah-sekolah yang sudah menerapkan budaya literasi ini.
Sehingga dapat mencetak generasi-generasi milenial yang dapat mencetak prestasi
kekancah internasional dengan berbagai karya menarik mereka yang berawal dari
budaya leterasi.(Penulis Adalah Ibu Sapini yang merupakan Kepala MTs
Negeri 1 Kutai Kartanegara)