Teater Matahari Samarinda Pentaskan "Geger" di Solo
H Pance sebagai Raja Mangku Alam
AMBISI untuk meraih kekuasaan demikian
berkobar dalam jiwa elite-elite politik yang ada di Kerajaan Batu Besaung.
Perdana Menteri, Panglima Perang dan Putra Mahkota berusaha dengan berbagai
cara untuk mendapatkan kekuasaan itu dan mereka bertiga bersekongkol untuk
menjatuhkan kekuasaan Raja Mangku Alam. Pertikaian dan intrik di Kerajaan
Batu Besaung semakin tajam, apalagi
keinginan Raja Mangku Alam yang ingin memiliki Putri Mayang sebagai permaisuri sangat besar.
Padahal Raja Mangku Alam tahu bahwa Putri Mayang adalah tunangan Putra
Mahkota, namun karena keserakahannya itu membuat Raja Mangku Alam gelap mata
dan tetap ingin menjadikan Putri Mayang sebagai istrinya. Perbuatan Raja Mangku
Alam itu membuat Putra Mahkota meradang dan sakit hati, atas tingkah laku Raja
Mangku Alam. Namun Putra Mahkota tidak bisa berbuat apa-apa, setelah tahu bahwa dirinya bukanlah anak kandung Raja
Mangku Alam, melainkan hanyalah anak angkat. Kekecewaan dan rasa sakit hati
Putra Mahkota lalu dimanfaatkan Perdana Menteri yang bekerja sama dengan
Panglima Perang untuk melakukan pemberontakan dan mengambil tahta kerajaan dari
tangan Mangku Alam.
Persiapan untuk memberontak dilakukan dengan
cara licik, termasuk menyuruh petinggi kerajaan melakukan korupsi. Bisik-bisik
dan berbagai rencana dilakukan Perdana Menteri dan Panglima Perang, namun
keduanya tidak memperhitungkan sosok Khadam, yang terlihat lugu namun ternyata
mempunyai kecerdikan luar biasa. Khadam lalu memprovokasi Raja Mangku Alam dan
juga Perdana Menteri. Keduanya diadu domba hingga saling bunuh.
Kejutan muncul, Putri Mayang yang tahu bahwa
ayahnya telah dibunuh Mangku Alam, mencari cara untuk balas dendam dan caranya
adalah bersekongkol dengan Perdana Menteri dan Panglima Perang, untuk mengambil
tahta kerajaan. Saat Mangku Alam, Perdana Menteri, Panglima Perang dan Putra
Mahkota memperebutkan tahta, Putri Mayang dengan caranya sendiri mengganti
minuman yang beracun dengan racun seribu kobra. Mangku Alam, Perdana Menteri,
Panglima Perang, Putra Mahkota semuanya tewas akibat racun itu. Khadam yang
tahu akan hal itu, tertawa sekaligus menangis, melihat resiko yang disebabkan
karena nafsu kekuasaan, Putri Mayang termangu melihat Khadam pergi meninggalkan
istana kerajaan. Putri Mayang bertanya pada Khadam, hendak kemana? Khadam
sambil menangis menjawab akan pergi mencari kematian.
KEKUATAN AKTOR
Naskah "Geger" karya Hamdani itu
boleh dikatakan menarik dan persoalan perebutan kekuasaan adalah cermin dari
keserakahan manusia, utamanya tokoh-tokoh politik yang ada. Kekuatan naskah itu
semakin muncul, dengan terlibatnya Wawan Timoer (sebagai Perdana Menteri) Sabir
yang memerankan Khadam, H Sahabuddin Pance sebagai Raja Mangku Alam, adalah
aktor-aktor yang mumpuni di Kaltim, HM Noor ( Panglima Perang) Fathurrozi (
Putra Mahkota) dan Musdalifah sebagai Putri Mayang mampu mengimbangi akting
dari aktor kawakan Kaltim itu.
Hamdani penulis naskah sekaligus sutradara
tidak terlalu repot memberikan arahan kepada pemain, karena pemain
"Geger" adalah aktor dan aktris yang tak perlu diraguka kemampuannya. Yang jelas pementasan
"Geger" di Pendopo ISI ( Institut Seni Indonesia) Solo, yang berlangsung 3 Desember 2022 diharapkan
akan membuat geger Solo.(hoesin kh)