DPRD Kaltim Dorong Pemerintah Cari Solusi Kekurangan SMA di Samarinda
POSKOTAKALTIMNEWS, SAMARINDA: Kekurangan Sekolah Menengah Atas (SMA) ternyata bukan hanya masalah di daerah pedesaan saja, tapi juga di Samarinda, ibu kota Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Hal itu dibenarkan legislator karang paci dr. Andi Satya Adi Saputra.
"Rupanya,
ini terjadi juga di daerah perkotaan seperti Samarinda," ujarnya beberapa
waktu lalu.
Setelah
melakukan reses di beberapa titik kelurahan terkhusus daerah pemilihan (dapil)
Kota Samarinda, dirinya mendapati banyak warga yang mengeluhkan kesulitan akses
ke SMA negeri.
“Di daerah Baqa, Mangkupalas, Rapak Dalam, Mesjid, maupun Handil Bakti di Palaran masih kekurangan SMA," tuturnya.
Kata
politikus Golkar ini, banyak sekali orang tua yang merasa kesulitan karena SMA
Negeri rupanya tidak cukup SMA di wilayah mereka, apalagi dengan adanya sistem
zonasi yang membatasi akses ke sekolah negeri.
Masalah
ini lanjut dia, semakin diperparah oleh keterbatasan fasilitas sekolah negeri
yang tidak bisa menampung semua siswa, sementara biaya untuk bersekolah di
sekolah swasta juga menjadi hambatan besar bagi banyak keluarga.
"Memang,
sistem zonasi yang diterapkan sekarang jadi penghalang bagi anak-anak yang
ingin melanjutkan sekolah ke SMA negeri. Mereka terhalang oleh jarak, dan bagi
orang tua yang tidak mampu, biaya sekolah swasta menjadi masalah
tambahan," katanya.
dr. Andi
Satya menegaskan bahwa pemerintah harus segera mencari solusi atas masalah ini,
mengingat kebijakan wajib belajar 12 tahun seharusnya memastikan bahwa setiap
anak di Indonesia mendapat akses pendidikan yang layak.
“Pendidikan
itu hak setiap anak. Pemerintah seharusnya bertanggung jawab menyediakan
fasilitas pendidikan yang memadai, terutama di daerah yang kekurangan SMA
negeri,” tegasnya.
Pria
kelahiran 1982 tersebut juga menyoroti perlunya perbaikan kebijakan pendidikan
yang lebih adil dan merata, agar tidak ada anak yang terhambat untuk
melanjutkan pendidikan hanya karena masalah zonasi atau ekonomi.
“Kami di
DPRD Kaltim berkomitmen untuk mengawal kebijakan ini agar tidak ada anak yang
kehilangan kesempatan bersekolah,” papar Andi Satya menutup pembicaraannya.
Masalah
kekurangan SMA di Samarinda dan sekitarnya memang membutuhkan perhatian serius
dari pemerintah agar anak-anak di Bumi Borneo mendapatkan pendidikan yang
layak, tanpa terkendala oleh faktor zonasi atau biaya.(adv/die)