Sarkowi Ingatkan Kaltim Tak Bisa Andalkan SDA, Dorong Penguatan SDM Lewat Pendidikan Tinggi
Anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Sarkowi V Zahry
POSKOTAKALTIMNEWS, SAMARINDA: Kalimantan Timur (Kaltim) dikenal sebagai daerah yang kaya akan sumber daya alam (SDA). Namun, Anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Sarkowi V Zahry, mengingatkan bahwa kekayaan tersebut tidak akan bertahan selamanya.
Ia menegaskan bahwa ketahanan
pembangunan jangka panjang akan sangat ditentukan oleh seberapa besar investasi
pemerintah terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM), bukan semata-mata pada
sektor migas atau pertambangan.
“Kita tidak bisa
terus-menerus mengandalkan SDA. Itu tidak terbarukan. Kalau ingin Kaltim tetap
punya masa depan, SDM-nya yang harus diperkuat,” ujar Sarkowi, Selasa
(01/07/2025).
Ia menyebut bahwa
transformasi pembangunan daerah perlu ditopang oleh kebijakan yang menyentuh
sektor pendidikan secara konkret, seperti peningkatan Indeks Pembangunan
Manusia (IPM) yang harus dijadikan prioritas melalui penguatan akses dan
kualitas pendidikan.
Sarkowi mengapresiasi
Program Gratispol yang diinisiasi Gubernur dan Wakil Gubernur Kaltim, yakni
program pembebasan biaya kuliah bagi pelajar lokal.
Namun, ia menilai pelaksanaannya belum berjalan optimal karena terbentur regulasi, mengingat perguruan tinggi berada di bawah kewenangan pemerintah pusat. “Yang kuliah ini warga Kaltim, tapi universitas ada di bawah pusat. Makanya, Pemprov harus pintar mencari celah agar tetap bisa bantu tanpa melanggar aturan,” tuturnya.
Atas kendala tersebut,
pemerintah daerah kemudian melakukan penyesuaian, termasuk mengganti nama dan
skema program menjadi bantuan pendidikan perguruan tinggi.
Menurut Sarkowi, perubahan
tersebut merupakan bentuk adaptasi terhadap situasi, bukan kemunduran. Ia juga
menyoroti munculnya pertanyaan dari masyarakat terkait penerima manfaat
program.
Di tengah tingginya
harapan publik, Sarkowi mengingatkan pentingnya kesadaran akan kondisi keuangan
daerah yang turut memengaruhi distribusi bantuan.
Ia mencontohkan turunnya
APBD Kaltim dari Rp21 triliun menjadi Rp18 triliun sebagai tantangan yang tidak
bisa diabaikan.
“Anggaran kita tidak hanya
untuk pendidikan. Infrastruktur, bantuan sosial, dan lingkungan juga butuh
porsi. Kita harus realistis,” ucapnya.
Tak hanya itu, Sarkowi
juga mengkritisi cara pemerintah menyosialisasikan program tersebut.
Menurutnya, sejumlah kegaduhan yang muncul di tengah masyarakat terjadi karena
komunikasi yang tidak maksimal dari pihak pemerintah.
“Saya sudah minta di
rapat, ini harus diperbaiki. Sosialisasi harus masif, jangan hanya lewat poster
atau seremoni. Gunakan semua kanal, termasuk digital. Ini menyangkut hak publik
atas informasi,” tegasnya.
Ia pun mengajak publik
untuk tidak langsung menghakimi sebelum melihat hasil nyata dari pelaksanaan
program. Baginya, pengawasan memang penting, namun harus tetap memberi ruang
agar kebijakan dapat berjalan dan berkembang.
“Kalau
belum jalan sudah diributkan, kapan program ini bisa berkembang? Kita tetap
awasi, tapi beri kesempatan untuk bekerja dulu,” pungkasnya. (adv)