Angka HIV/AIDS Meningkat, DPRD Kukar Minta Penanganan Lebih Serius dan Pencegahan Diperkuat
Ketua DPRD Kukar, Ahmad Yani.
POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR: Meningkatnya angka kasus HIV/AIDS di Kalimantan Timur (Kaltim) memunculkan kekhawatiran baru di tingkat daerah. Jika data peningkatan itu benar, Kutai Kartanegara (Kukar) disebut berpotensi masuk dalam kategori wilayah dengan kasus cukup tinggi. Situasi ini dinilai membutuhkan langkah cepat dan terukur.
Ketua DPRD Kukar Ahmad
Yani menegaskan bahwa pemerintah dan masyarakat tidak boleh menyepelekan
perkembangan tersebut. Ia meminta kewaspadaan kolektif, terutama bila angka
kasus di Kukar turut menunjukkan tren naik.
“Kalau memang benar
datanya, tentu kita harus waspada. Apalagi kalau Kutai Kartanegara masuk angka
tertinggi, ini menjadi perhatian serius bagi kita semua,” ujar Yani, pada Senin
(17/11/2025).
Yani menilai sektor
kesehatan harus berada di garis depan pengawasan. Dokter, rumah sakit, hingga
puskesmas diminta lebih fokus dalam deteksi, pendampingan, dan pengobatan
pasien. Menurutnya, penanganan kasus HIV/AIDS tidak boleh dilakukan
setengah-setengah karena menyangkut keselamatan masyarakat luas.
Selain itu, ia juga
menyoroti potensi praktik transaksi seksual ilegal yang bisa mempercepat
penyebaran penyakit. Jika dibiarkan, Kukar bisa menjadi salah satu wilayah
paling rentan.
“Jangan sampai Kutai
Kartanegara dijadikan tempat transaksi seksual. Itu bisa merugikan daerah dan
mempercepat penyebaran penyakit,” tegasnya.
Yani menambahkan bahwa
upaya medis harus berjalan berdampingan dengan pendekatan sosial dan keagamaan.
Edukasi sejak dini dinilai penting agar masyarakat memiliki pemahaman yang
benar dan mampu menjaga diri dari perilaku berisiko.
“Kelakuan pribadi
seseorang tidak selalu bisa dikontrol. Karena itu pendekatan agama dan moral
harus diutamakan agar masyarakat punya benteng dari hal-hal negatif,” katanya.
DPRD Kukar mendorong
pemerintah daerah, fasilitas kesehatan, posyandu, hingga tingkat rukun tetangga
(RT) untuk aktif melakukan penyuluhan. Langkah pencegahan dianggap jauh lebih
efektif dibanding menunggu jumlah kasus terus meningkat.
“Ini jangan dianggap biasa
saja. Kalau tidak dicegah dari sekarang, penyebarannya bisa sangat masif. Orang
yang sehat pun berisiko terjangkit jika kita lengah,” pungkasnya.(ADV)