Keluhkan Listrik Padam hingga Tiga Kali Sehari, Aliansi Tiga Ormas Geruduk Kantor PLN ULP Tenggarong
Massa Aliansi tiga Ormas berkumpul di depan kantor PLN ULP Tenggarong saat menyampaikan
protes terkait pemadaman listrik berulang. (Kriz)
POSKOTAKALTIMNEWS,
KUKAR : Pemadaman listrik bergilir yang berulang
kali terjadi dalam beberapa bulan terakhir membuat masyarakat Tenggarong, Kutai
Kartanegara (Kukar), resah.
Kondisi ini memicu
Aliansi Ormas Tiga Daerah yang terdiri dari Remaong Koetai Berdjaya, Remaong
Kutai Menamang, dan Kayuh Baimbai mendatangi kantor PT PLN (Persero) ULP
Tenggarong, Senin (26/10/2026) malam.
Ketua Harian Aliansi
Ormas Tiga Daerah, Moch Saddam Jordi, mengatakan pemadaman listrik yang terjadi
hingga beberapa kali dalam sehari telah mengganggu aktivitas masyarakat.
Selain itu, warga
juga mengeluhkan kerusakan peralatan elektronik yang diduga berkaitan dengan
gangguan kelistrikan.
“Pagi hari listrik
dimatikan, kemudian menyala. Siangnya, tidak lama kemudian mati lagi sampai
sore. Malam ini mati lagi. Warga sangat resah, masyarakat sangat resah,”
ujarnya.
Menurutnya, persoalan
yang dikeluhkan masyarakat bukan sekadar listrik padam, melainkan frekuensi
pemadaman yang bisa terjadi hingga tiga kali dalam sehari.
Kondisi tersebut
membuat warga khawatir, terutama terhadap peralatan elektronik di rumah mereka.
Ia menyebut, keluhan
yang diterima pihaknya antara lain kerusakan televisi, kulkas, AC, telepon
genggam, hingga instalasi listrik rumah.
Ia meminta PLN
memberikan penjelasan mengenai gangguan yang terjadi dan langkah penanganan
yang dilakukan.
“TV rusak, kulkas
yang paling banyak rusak, itu keluhan yang disampaikan kepada kami. Kulkas, AC,
dan handphone mengalami korsleting. Instalasi listrik rumah juga korsleting,”
ungkapnya.
Ia juga
mempertanyakan pemulihan listrik pada malam aksi. Berdasarkan informasi yang
beredar di media sosial, listrik dijadwalkan kembali menyala sekitar pukul
22.00 Wita. Namun, sebelum pukul 20.00 Wita, aliran listrik sudah kembali
menyala.
Ia mengaku heran
dengan perubahan tersebut. Terlebih, perwakilan PLN yang disebut akan menemui
massa tidak kunjung datang meski sebelumnya dikabarkan sedang dalam perjalanan.
“Tadi katanya mau
datang, sedang dalam perjalanan (on the way), tetapi sampai sekarang tidak
datang. Tiba-tiba menyuruh besok lagi,” kata dia.
Ia menegaskan,
kedatangan aliansi ormas tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap keluhan
masyarakat.
Pihaknya ingin PLN
memberikan penjelasan yang jelas agar warga tidak terus-menerus berada dalam
ketidakpastian.
Ia juga menyinggung
sejumlah kebakaran di Tenggarong yang menambah kekhawatiran masyarakat.
Ia menyebut kebakaran
di Jalan AM Alimuddin yang berdampak pada 75 rumah serta kebakaran di Jalan
Kartini yang menimbulkan korban jiwa diduga terjadi karena konsleting listrik.
Meski demikian,
penyebab kebakaran tetap harus dipastikan melalui penyelidikan pihak berwenang.
Ia berharap persoalan
kelistrikan mendapat perhatian serius agar gangguan serupa tidak terus
menimbulkan keresahan.
“Jadi, ada apa dengan
PLN? PLN ini kan BUMN. Lucu saja, kenapa bisa seperti ini? Kami di sini
menyuarakan apa yang disuarakan oleh masyarakat,” tegasnya.
Terpisah saat di
konfirmasi melalui telfon, Manager Umum PLN ULP Tenggarong, Dwi Haryadi,
menjelaskan bahwa gangguan pasokan listrik terjadi karena sejumlah pembangkit
mengalami kendala, baik akibat penurunan kemampuan operasi maupun pemeliharaan.
Meski demikian,
pihaknya belum dapat memastikan berapa lama pemeliharaan berlangsung maupun
kapan pasokan listrik kembali normal.
Ia mengatakan,
informasi teknis mengenai kondisi pembangkit dan kepastian pemulihan berada
dalam kewenangan manajemen PLN di tingkat yang lebih tinggi.
“Untuk memastikan
berapa lama pemeliharaan berlangsung dan kapan pasokan listrik kembali normal,
kami belum dapat memberikan kepastian. Hal tersebut merupakan kewenangan
manajemen di tingkat atas,” jelasnya.
Terkait kebakaran
yang diduga disebabkan korsleting listrik, ia menegaskan bahwa penyebab
kejadian tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan dugaan.
Penetapannya harus
mengacu pada hasil penyelidikan pihak berwenang, khususnya kepolisian.
“Kami menghormati
proses hukum yang berlaku dan menunggu hasil penyelidikan sebelum menyatakan
penyebab suatu kejadian,” kata dia.
Mengenai keluhan
kerusakan peralatan elektronik akibat gangguan listrik, ia menyebut ketentuan
kompensasi telah diatur.
Namun, penjelasan
lebih lanjut mengenai persyaratan dan mekanisme pemberiannya perlu
dikonfirmasikan kepada manajemen PLN di tingkat yang lebih tinggi.
Ia menyebut, gangguan
pasokan listrik tidak hanya terjadi di Tenggarong atau wilayah tertentu di
Kalimantan Timur, tetapi juga berdampak pada sejumlah wilayah di Kalimantan.
Karena itu,
penanganan dan kepastian pemulihan pasokan listrik memerlukan koordinasi di
tingkat manajemen yang lebih tinggi.
Di tengah kondisi
tersebut, PLN mengimbau masyarakat untuk memastikan peralatan listrik yang
tidak diperlukan telah dimatikan.
Warga juga diminta memeriksa keamanan rumah sebelum bepergian, termasuk memastikan kompor dan perangkat listrik lainnya dalam keadaan aman.
“Kami juga mengimbau
masyarakat untuk menggunakan listrik secara bijak dan mematikan peralatan
elektronik yang tidak diperlukan. Sebelum meninggalkan rumah, pastikan
peralatan yang berpotensi menimbulkan bahaya telah dimatikan,” tutupnya. (Kriz)