260 Pelari dari Berbagai Daerah di Kaltim Jajal Jalur Ekstrem Loa Raya di Pelandok IDI Kukar Mixed Trail 2
Flag Off Pelandok IDI
Kukar Mixed Trail 2. (Kriz)
POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR : Tanjakan dan turunan ekstrem di Desa Loa Raya, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menjadi medan yang harus ditaklukkan 260 pelari dari berbagai daerah di Kalimantan Timur (Kaltim), Minggu (19/7/2026).
Sejak pagi, mereka
berpacu mengatur napas dan tenaga menyusuri lintasan sepanjang 10 kilometer
dalam ajang Pelandok IDI Kukar Mixed Trail 2 Tahun 2026.
Perlombaan dimulai
sejak pukul 06.00 Wita dengan batas waktu atau Cut Off Time (COT) selama tiga
jam. Para peserta terbagi dalam kategori pelajar usia 12-16 tahun, umum usia 17
tahun ke atas, serta master usia 45 tahun ke atas.
Ketua Asosiasi Lari
Trail Indonesia (ALTI) Kukar, Firnadi Ikhsan mengatakan, penyelenggaraan tahun
ini menghadirkan karakter lintasan yang berbeda dibandingkan event sebelumnya.
Meski hanya
mempertandingkan satu jarak, yakni 10 kilometer, medan yang dipilih menawarkan
tingkat kesulitan lebih tinggi bagi para peserta.
“Ada tanjakan dan
turunan serta Medan berbatu yang belum pernah dilewati pada rute-rute di event
sebelumnya,” ujarnya kepada Poskotakaltimnews.
Tantangan tersebut
menarik antusiasme 260 pelari dari hampir seluruh kabupaten dan kota di Kaltim.
Peserta datang dari
berbagai daerah, mulai dari Bontang, Balikpapan, Samarinda, Kutai Timur hingga
sejumlah wilayah lainnya.
Partisipasi pelari
dari Kukar juga cukup luas, tak hanya dari Tenggarong dan sekitarnya, sejumlah
atlet datang dari Kota Bangun dan Sebulu.
Bahkan, komunikasi
mulai terjalin agar kegiatan serupa nantinya tidak hanya terpusat di sekitar
Tenggarong.
“Mereka juga sudah
berkomunikasi dan berharap kegiatan serupa bisa dilaksanakan di daerah mereka,”
ujarnya.
Pelandok IDI Kukar
Mixed Trail 2 sendiri merupakan hasil kolaborasi sejumlah pihak. Selain Rumah
Aspirasi dan Pelandok, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kukar turut terlibat dalam
penyelenggaraan kegiatan tahun ini.
Keterlibatan Rumah
Aspirasi juga tidak terlepas dari Firnadi yang selain menjabat Ketua ALTI
Kukar, merupakan anggota DPRD Provinsi Kaltim.
Sementara,
Keterlibatan IDI Kukar juga membuat kegiatan tidak hanya berfokus pada
perlombaan.
Penyuluhan mengenai
kesehatan turut diberikan kepada peserta dan masyarakat, sementara seluruh
peserta juga dibekali perlindungan asuransi BPJS Kesehatan untuk meminimalisir
risiko apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan selama kegiatan.
Tak hanya menyuguhkan
tantangan di lintasan, Pelandok IDI Kukar Mixed Trail 2 juga dimeriahkan dengan
sejumlah kegiatan lainnya.
Warga Desa Loa Raya
mengikuti zumba bersama, sementara penampilan DJ turut menghibur peserta dan
masyarakat yang hadir setelah rangkaian perlombaan.
Firnadi menilai
perkembangan olahraga trail di Kukar semakin menunjukkan potensi.
Beberapa kegiatan
yang telah dilaksanakan sebelumnya menjadi bagian dari upaya mengenalkan
kembali olahraga tantangan dan lintas alam kepada masyarakat, sebelum kemudian
diarahkan lebih serius menuju olahraga prestasi.
“Belakangan ini kami
mencoba mengarahkannya menjadi olahraga prestasi, dengan rute dan kategori yang
memang umum diperlombakan,” jelasnya.
Peluang menuju
olahraga prestasi tersebut semakin terbuka karena trail kini telah masuk dalam
cabang olahraga yang berada di bawah KONI.
Keberadaannya dalam
kompetisi resmi membuat atlet daerah memiliki ruang untuk berkembang dan
bersaing pada jenjang yang lebih tinggi.
“Olahraga trail
sekarang sudah masuk dalam cabang olahraga yang berada di bawah KONI, sehingga
juga diperlombakan di PON dan event-event nasional lainnya,” ungkapnya.
Di tengah
berkembangnya olahraga tersebut, antusiasme masyarakat Kukar juga terus tumbuh.
Firnadi melihat lari
lintas alam kini tidak hanya diminati sebagai ajang kompetisi, tetapi perlahan
menjadi aktivitas yang semakin dekat dengan keseharian masyarakat.
“Kita melihat
olahraga ini bahkan mulai menjadi lifestyle atau gaya hidup masyarakat Kukar,
khususnya di Tenggarong,” tuturnya.
Semangat itu salah
satunya terlihat dari Nyaniran. Di usia 67 tahun, warga asal Tenggarong
Seberang tersebut ikut menghadapi medan 10 kilometer bersama ratusan peserta
lainnya.
Langkahnya sempat
terhenti ketika dua kali terjatuh di lintasan, dengan kawasan di sekitar kolam
menjadi bagian yang dirasakannya paling berat.
Namun, pengalaman
tersebut tidak membuat Nyaniran kapok. Ia mengaku selalu mengikuti kegiatan
lari serupa setiap kali ada kesempatan, bahkan pernah mengikuti perlombaan
hingga ke Bontang.
“Yang penting pikiran
tenang, sehat-sehat, jangan terpaksa,” kata Nyaniran.
Bagi Nyaniran,
bertambahnya usia justru bukan alasan untuk berhenti bergerak.
Dari pengalamannya
tetap aktif berlari di usia 67 tahun, ia berharap masyarakat tidak menjadikan
umur sebagai batas untuk menjaga kebugaran tubuh.
“Jangan sampai karena
umur sudah 50 tahun ke atas lalu berhenti. Marilah kita berolahraga untuk
kesehatan badan, supaya tetap sehat,” pesannya.
Semangat yang sama juga ia titipkan kepada generasi muda. Menurutnya, kebiasaan berolahraga sejak usia muda akan memberikan manfaat yang dapat dirasakan hingga seseorang memasuki usia lanjut.
“Mari kawan-kawan,
adik-adikku dan anak-anakku, mari kita berolahraga. Manfaatnya banyak sekali
nanti kalau sudah tua,” pungkasnya. (Kriz)