Kukar Angkat Sejarah dan Budaya Lokal dalam Logo MTQH XLVI Kaltim
Oleh Admin5 menit baca212 dibaca

KUKAR, POSKOTAKALTIMNEWS : Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) memanfaatkan penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Qur’an dan Hadis (MTQH) XLVI tingkat Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) 2026 sebagai momentum untuk memperkenalkan kekayaan sejarah, budaya, serta identitas daerah kepada masyarakat luas.
Hal tersebut diwujudkan melalui desain logo dan maskot MTQH yang memadukan nilai-nilai keislaman dengan berbagai unsur tradisi dan peninggalan sejarah Kutai.
Logo dan maskot tersebut tidak sekadar menjadi identitas visual kegiatan, tetapi juga dirancang untuk menyampaikan pesan tentang perjalanan sejarah dan karakter masyarakat Kukar.
Setiap elemen yang ditampilkan memiliki makna tersendiri, mulai dari jejak perkembangan Islam, kebudayaan Kesultanan Kutai Kartanegara, hingga program keagamaan yang menjadi bagian dari kebijakan pemerintah daerah.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kukar, Sunggono, menjelaskan bahwa salah satu unsur sejarah yang diangkat dalam rancangan tersebut adalah Masjid Jami’ Tenggarong.
Masjid yang berada di depan Pendopo Odah Etam itu dipilih karena memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan penyebaran agama Islam di Kukar.
Sejarahnya berawal dari sebuah Musala yang didirikan Pangeran Noto Igomo, tokoh yang memiliki peran dalam menyebarkan ajaran Islam di wilayah tersebut.
“Masjid yang ada di belakang Bapak-Ibu sekalian, di depan pendopo ini. Masjid pertama yang awalnya merupakan musala yang dibangun oleh Pangeran Noto Igomo, penyiar agama Islam yang ada di Kukar,” ujarnya saat ditemui di Tenggarong, Selasa (3/11/2026).
Seiring perkembangan zaman, bangunan tersebut mengalami perubahan hingga menjadi Masjid Jami’ yang dibangun pada 1874.
Keberadaan Masjid ini kemudian diangkat sebagai salah satu representasi perjalanan panjang syiar Islam di Kutai Kartanegara.
Melalui simbol tersebut, MTQH juga ingin menggambarkan kedekatan kehidupan masyarakat dengan nilai-nilai keagamaan.
Masjid tidak hanya dipandang sebagai tempat beribadah, tetapi juga memiliki peran dalam membangun kebersamaan, memperdalam pengetahuan agama, serta membentuk karakter umat.
Selain peninggalan sejarah, identitas kebudayaan Kutai turut diperkenalkan melalui dua karakter maskot bernama Kadeka dan Kadeki.
Kedua tokoh yang terdiri dari karakter laki-laki dan perempuan tersebut mengenakan busana miskat, salah satu pakaian tradisional khas Kutai.
Penggunaan pakaian ini memiliki keterkaitan dengan tradisi pemerintahan daerah.
Sebab, miskat merupakan busana yang dikenakan pejabat dan pegawai di lingkungan Pemkab Kukar setiap Kamis sebagaimana diatur dalam peraturan bupati.
Kehadirannya dalam desain maskot menjadi salah satu upaya memperkenalkan kekhasan budaya Kutai kepada masyarakat, termasuk para peserta MTQH yang berasal dari berbagai kabupaten dan kota di Kaltim.
“Ini ada dua orang anak cewek dan cowok, kemudian baju yang digunakan itu baju miskat. Baju miskat itu baju khas Kutai yang di Kukar digunakan pada hari Kamis dan ditetapkan dalam peraturan bupati,” jelasnya.
Tidak hanya dari segi busana, masing-masing maskot juga dilengkapi aksesori dan tulisan yang mengandung pesan tertentu.
Kadeki mengenakan kalung yang menjadi salah satu aksesori khas perempuan Kutai, sedangkan pakaian Kadeka memuat tulisan KD’Q, singkatan dari Keroan Dengsanak Qur’ani.
Identitas tersebut merepresentasikan semangat persaudaraan yang tumbuh melalui kecintaan terhadap Al-Qur’an.
Nilai kebersamaan ini juga memiliki keterkaitan dengan Gerakan Etam Mengaji (GEMA), program pemerintah daerah yang bertujuan membudayakan aktivitas membaca Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Pelaksanaan gerakan tersebut telah memiliki landasan hukum melalui Peraturan Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara Nomor 4 Tahun 2021 tentang Pedoman Penyelenggaraan Gerakan Etam Mengaji.
Dengan demikian, pesan yang dibawa maskot tidak hanya berkaitan dengan pengenalan budaya, tetapi juga mencerminkan upaya pemerintah daerah dalam memperkuat kehidupan religius masyarakat.
Unsur kebudayaan Kutai lainnya terlihat dari pemilihan warna hijau dan kuning yang mendominasi identitas visual MTQH.
Kedua warna tersebut memiliki kedudukan tersendiri dalam tradisi masyarakat Kutai sekaligus merepresentasikan nilai kedamaian dan kemakmuran.
“Kalau di Kukar itu termasuk warna sakral, hijau dan kuning. Itu warna kedamaian dan warna kemakmuran,” ungkapnya.
Sementara itu, desain logo MTQH XLVI Kaltim turut menggabungkan sejumlah elemen utama, yakni angka 46, bulan dan cahaya, masjid, serta Al-Qur’an.
Seluruh unsur tersebut dirangkai dalam satu komposisi yang menggambarkan identitas penyelenggaraan sekaligus pesan keagamaan.
Angka 46 menandakan edisi penyelenggaraan MTQH tingkat Provinsi Kaltim.
Sementara simbol bulan beserta pancaran cahayanya menggambarkan petunjuk Al-Qur’an yang diharapkan mampu menerangi kehidupan umat serta menghadirkan ketenteraman dan keberkahan.
Jika dilihat secara keseluruhan, perpaduan elemen tersebut membentuk siluet menyerupai obor atau daun.
Bentuk ini dimaknai sebagai gambaran semangat, energi kebersamaan, dan persatuan yang berpijak pada nilai-nilai Islam serta kekayaan budaya daerah.
“Tulisannya ada angka 46, kemudian juga ada semacam logo bulan dan bintang, kemudian setelah keseluruhan itu menggambarkan seperti bentuk obor,” kata dia.
Ia mengatakan, keberadaan Masjid Jami’ dalam logo juga dimaknai sebagai simbol pembinaan kehidupan umat sekaligus sumber keberkahan bagi masyarakat Kukar dan Kaltim.
Adapun Al-Qur’an ditempatkan sebagai representasi sumber ilmu pengetahuan dan pedoman bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan.
Untuk memastikan pesan tersebut dapat dipahami masyarakat, Pemkab Kukar berencana menyampaikan penjelasan mengenai filosofi logo dan maskot melalui berbagai saluran informasi, baik media cetak, elektronik, maupun media sosial.
“Insya Allah semua informasi tentang ini akan kami sampaikan melalui media cetak Media elektronik termasuk Medsos,” tegasnya.
Tidak hanya tercermin dalam identitas visual, perpaduan nilai sejarah, kebudayaan, dan keagamaan juga menjadi dasar dalam perumusan tema MTQH XLVI Kaltim 2026, yakni Dengan Berkah MTQH di Tanah Bertuah Mari Kita Wujudkan Generasi Emas Kalimantan Timur 2045.
Penggunaan istilah Tanah Bertuah bukan tanpa alasan, ungkapan tersebut memiliki hubungan dengan sejarah dan identitas Kukar, khususnya syair dalam Mars Kutai Kartanegara yang diciptakan Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.
Melalui pengangkatan istilah tersebut, tema MTQH tidak hanya menonjolkan kebanggaan terhadap warisan sejarah daerah, tetapi juga membawa harapan agar nilai-nilai keagamaan dapat menjadi landasan dalam menyiapkan generasi masa depan Kaltim.
Pemkab Kukar berharap penyelenggaraan MTQH XLVI Kaltim tidak hanya menjadi ajang perlombaan dalam bidang tilawah dan pemahaman Al-Qur’an, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap penguatan karakter masyarakat, khususnya generasi muda.
Melalui kegiatan tersebut, nilai-nilai Al-Qur’an diharapkan semakin tertanam dalam kehidupan sehari-hari sehingga mampu melahirkan generasi yang berakhlak baik, memiliki pemahaman agama yang kuat, serta siap menghadapi berbagai tantangan pembangunan menuju Indonesia Emas 2045.
“Harapannya mudah-mudahan dengan pelaksanaan MTQH di tanah bertuah, kita bersama wujudkan Kalimantan Timur untuk generasi emas di tahun 2045,” pungkasnya. (Adv/Kriz)




